PERSEBARAN KEBUDAYAAN PENDUDUK PERBATASAN
INDONESIA-MALAYSIA
Oleh: Balqis Muliya Isnani
isnanibalqismuliya@gmail.com
ABSTRAK
Budaya telah memberikan kontribusi besar dalam membentuk tradisi masyarakat. Termasuk juga dengan tradisi yang ada pada penduduk Desa Temajuk yang berada di ekor Borneo tepatnya di kecamatan paloh, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat dan penduduk Desa Kampung Teluk Malano, Sarawak, Malaysia Timur dimana dua Desa ini saling berdekatan yang berada di perbatasan Indonesia dan Malaysia. Warga di Desa Temajuk dengan warga di Teluk Malano Malaysia menjalin hubungan yang sangat akrab, karena dua daerah ini sangat berdekatan dan diantara keduanya memiliki persamaan dalam budaya yaitu adat budaya Pernikahan dan budaya 1 Muharram. Dimana persamaan tersebut muncul dari berbagai faktor yaitu yang pertama : Orang melayu asli dari Kabupaten Sambas tidak sedikit yang menikah dengan warga Teluk Malano lalu tinggal di Teluk Malano kedua, dua daerah yang bertetanggaan tersebut memiliki keakraban sejak dari dahulu yang ketiga, faktor kesamaan. Budaya tersebut merupakan bukti nyata bahwa diantara dua negara memiliki kedekatan yang sangat kuat yang bertahan sejak dari dahulu hingga pada zaman sekarang ini .Kata Kunci: Budaya, Persebaran, pernikahan dan 1 Muharram.
PENDAHULUAN
Budaya atau kebudayaan secara etimologi berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal kemudian diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi atau akal manusia. Sedangkan budaya atau kebudayaan yang dalam bahasa latin di nisbatkan dari kata cultura berarti mengandung, memelihara, mengerjakan atau mengolah. Kemudian dalam bahasa Arab digunakan kata al-saqafah untuk menyebutkan istilah kebudayaan .
Kebudayaan terbentuk dari beberapa unsur yang menurut Koentjaraningrat(1974,1993,2009), beliau mengemukankan bahwa setiap kebudayaan mempunyai unsur-unsur universal sebagai berikut: 1).Sistem religi 2) Sistem kemasyarakatan atau organisasi sosial 3) Sistem pengetahuan 4) Bahasa 5) Kesenian 6) Sistem mata pencaharian hidup atau sistem ekonomi 7) Sistem peralatan hidup. Dalam kehidupan bermasyarakat tentunya tidak lepas dari suatu kebudayaan, dimana kebudayaan tersebut di hasilkan oleh masyarakat sendiri. Kebudayaan muncul merupakan hasil perilaku masyarakat yang sering kali di lakukan. Dari sebuah kebudayaan memberikan cerminan sendiri tentang identitas suatu bangsa. Budaya dapat dianggap sebagai identitas suatu bangsa itu sendiri. Tradisi yang telah ada banyak mengandung nilai-nilai luhur yang wajib dipertahankan, dikembangkan dilestarikan dengan cara memperkenalkannya kepada generasi muda dan masyarakaat umumnya.
Kebudayaan dalam masyarakat melayu Sambas khususnya di Temajuk merupakan wujud dari sekelompok masyarakat Melayu yang menyuguhkan nilai-nilai filosofi Melayu dan Islam. Identitas melayu tercipta dan terbentuk melalui keberagamaan suku bangsa, bahasa, dan budaya yang disatukan oleh islam dalam satu komunitas besar yang menghiasi nusantara Begitu juga kebudayaan yang ada di Teluk Malano merupakan wujud dari cipta dan karsa manusia yang terbentuk dari keberagamaan suku bangsa, bahasa, budaya yang ada. Di Desa Temajuk dan Kampung Teluk Malano terdapat tradisi yang sama yaitu adat budaya Pernikahan dan 1 Muharram. Dimana tradisi tersebut sudah lama di jalankan oleh masyarakat Temajuk dan Malano, budaya tersebut memang ada perbedaan sedikit misal saja dari budaya 1 Muharram di Temajuk masih dijalankan budaya 1 Muharram dengan kegiatan tepung tawar dari satu rumah kerumah yang lainnya dan di Teluk Malano budaya 1 Muharram masih dijalankan tetapi di Malano tidak dijalankan lagi tepung tawar.
Menurut Machasin memberikan penjelasan bahwa Islam memilik pandangan terhadap budaya lokal , yaitu:
1. Menerima dan mengembangkan budaya yang sesuai dengan prinsip- prinsip islam dan berguna bagi pemulia kehidupan masyarakat.
2. Menolak tradisi dan unsur- unsur budaya yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.
3. Membiarkan saja, seperti pada cara berpakaian
Berangkat dari latar belakang diatas, maka peneliti berusaha mengangkat budaya masyarakat perbatasan Indonesia-Malaysia (Temajuk- Teluk Malano) yaitu tentang 1 Muharram dan Tradisi pernikahan.
Penelitian ini berusaha menjawab persoalan bagaimana bentuk tradisi tersebut, unsur- unsur apa saja yang ada dan nilai- nilai apa saja yang terkandung dalam kebudayaan tersebut.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini bersifat deskriptif dengan analisis kualitatif. Setelah data diperoleh oleh peneliti lalu dianalisis menurut teknik yang sesuai dengan sifat dari mana data yang diperoleh. Data yang didapatkan ialah melalui observasi dan wawancara (data primer) tentang makan besaprah, pada pesta pernikahan di Desa Temajuk dan Teluk Malano. Data yang diperoleh melalui literatur yang erat kaitannya dengan Tradisi pelaksanaan adat istiadat Melayu dalam pernikahan di Kabupaten Sambas (data sekunder). Data tersebut dianalisis menggunakan pedekatan deskriptif kualitatif. Adapun tehnik Pengambilan sampel lokasi penelitian dipilih secara ”purposif sampling” (Ida Bagoes Mantra, 1991), yakni pemilihan dengan sengaja lokasi penelitian oleh peneliti dengan maksud menemukan tempat / daerah yang sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin di teliti.
Penelitian Kualitatif (Qualitative research)
Peneitian kualitatif adalah penelitian yang dapat menjelaskan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap kepercayaan, persepsi seseorang atau kelompok terhadap sesuatu
Metode kualitatif
1. Hipotesis dikembangkan sejalan dengan penelitian / saat penelitian
2. Definisi sesusi konteks atau saat penelitian berlangsung
3. Deskripsi naratif / Kata- kata ungkapan atau pernyataan
4. Lebih suka menganggap cukup dengan reliabilitas penyimpulan
5. Penilaian validitas melalui pengecekan silang atas sumber informasi
6. Menggunakan deskripsi prosedur secara naratif
7. Sampling purposive
8. Menggunakan analisis logis dalam mengontrol variabel ekstern
9. Mengandalkan peneliti dalam mengontrol bias
10. Menyimpulkan hasi secara naratif / kata- kata
11. Gejala-gejala ang terjadi dilihat dlam perspektif keseluruhan
12.Tidak merusak gejala-gejala yang terjadi secara alamiah / membiarkan keadaan aslinya
DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
Letak geografis
Sebelum membahas eksistensi adat budaya pernikahan dan 1 muharram, terlebih dahulu diuraikan mengenai kondisi daerah yang menjadi tempat pelaksanaan tradisi tersebut. Hal itu penting karena dapat memberikan gambaran tentang daerah maupun masyarakat dimana tempat kebudayaan tersebut hidup. Sambas merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Kalimantan Barat. Di kabupaten sambas terdapat 19 kecamatan salah satunya ialah Kecamatan Paloh dan kecamatan Paloh terbagi menjadi 8 Desa, salah satunya adalah Desa Temajuk.
Dengan batas wilayah sebagai berikut:
a.Sebelah Utara dengan Desa Sebubus
b.Sebelah Selatan dengan Laut Natuna Selatan
c.Sebelah barat dengan laut Natuna Selatan
d.Sebelah Timur dengan Malaysia
Secara geografi Desa Temajuk merupakan daerah yang memiliki topografi tanahnya relatif datar meskipun ada sedikit yang berbukit kira-kira 40%. Desa temajuk merupakan sebuah desa dengan luas wilayah kurang lebih 1.078 ha (tanah sawah, tanah kering dan tanah basah) dan dengan jumlah 2262 jiwa pada tahun 2018.
Kondisi sosial ekonomi
Kondisi ekonomi merupakan salah satu unsur kebudayaan yang universal. Untuk mengetahui tingkat ekonomi atau kemajuan atau kemakmuran suatu daerah dapat dilihat dari keadaan ekonomi masyarakat atau penduduknya. Pada umumnya masyarakat di pedesaan sekaligus pesisir bekerja sebagai Nelayan, Petani, Pedagang, Pegawai Negeri Sipil, POLRI dan pekerjaan yang lain.
Kondisi ekonomi yang dimaksud adalah keadaan yang menggambarkan kondisi perekonomian masyarakat suatu daerah. Seperti hanya masyarakat Desa Temajuk dan memenuhi kebutuhan sehari- hari keluarga mereka, masing-masing mempunyai cara berbeda- beda, baik itu dari menjadi nelayan, petani, pedagang, polri dan lainnya.
Kondisi sosial budaya
Kebudayaan tidak bisa lepas dari kehidupan manusia dimana kebudayaan tersebut sebagai wujud dan juga pola- pola dari kebiasaan masyarakat. Wujud dari sosial budaya tersebut dapat berupa cara dan gaya hidup sehari-hari, cara melaksanakan suatu kepercayaan atau agama yang dianut, tradisi atau adat istiadatnya. Setiap masyarakat juga memiliki kehidupan sosial yang berbeda dengan masyarakat lainnya. Dimasyarakat melayu Sambas memiliki kehidupan sosial yang khas yaitu banyak meggunakan berbagai lambang atau simbol sebagai media atau sarana untuk menyampaikan dakwah dalam menyebarkan agama Islam dan di samping itu masyarakat di Kabupaten Sambas khususnya di Desa Temajuk merupakan masyarakat yang hidupnya penuh dengan rasa kekeluargaan, rukun serta saling tolong-menolong antar sesama.
Kondisi sosial agama
Agama merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan kebudayaan. Agama juga merupakan seperangkat aturan peraturan yang mengatur hubungan dengan dunia gaib, khususnya Tuhan, mengatur manusia dengan manusia lainnya, dan mengatur manusia dengan lingkungannya. Kehidupan keagamaan penduduk Desa Temajuk relatif sangat baik, hal ini dapat dilihat dari kerukunan penduduk antar pemeluk agama, yang tampak saling menghormati. Hal ini juga dididukung oleh kesadaran mengenai makna hidup beragama juga akhirat dan peranan warga masyarakat serta pemuka agama sangat berpengaruh untuk menciptakan kerukunan hidup beragama.
TEORI DIFUSI KEBUDAYAAN
Teori difusi pada awalnya ditunjukkan untuk memahami difusi dari teknik-teknik pertanian, tetapi pada perkembangannya difusi digunakan pada bidang- bidang lainnya secara lebih universal. Teori difusi inovasi dari Everret M Rogers kemudian diformulasikan dalam sebuah buku pada tahun 1962 berjudul “Diffusion of Inovations”, dimana dalam perkembangannya selanjunya menjadi landasan pemahaman tentang inovasi, faktor- faktor sosial apa yang mendukung adopsi inovasi dan bagaimana inovasi tersebut berproses diantara masyarakat. Difusi menekankan pada adanya persebaran (material dan non material)dari satu kebudayaan ke kebudayaan yang lain, dari satu orang ke orang yang lain. Serta dari satu tempat ketempat yang lain, sehingga kebudayaan itu sumbernya dari satu tempat yang kemudian berkembang dan menyebar ketempat yang lain.
Teori difusi kebudayaan dimaknai sebagai persebaran kebudayaa yang disebabkan adannya migrasi manusia. Perpindahan dari satu tempat ketempat lain, akan menularkan budaya tertetu. Hal ini akan semakin nampak jelas jika perpindahan manusia itu secara kelompok atau besar-besaran, dikemudian hari akan menimbulkan difusi kebudayaaan yang luar biasa. Setiap ada persebaran kebudayaaan, disitulah terjadi penggabungan dua kebudayaan atau lebih. Akibat pengaruh kemajuan teknolgi- komunikasi, juga akan mempengaruhi terjadinya difusi, maka akan terungkap segala bentuk kontak dan persebaran budaya sampai kewilayah yang kecil. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kontribusi pengkajian difusi terhadap kebudayaan manusia bukan pada aspek historis budaya tersebut, melainkan pada letak geografi budaya dalam wilayah dunia.
Menurut Fathoni (2005) penyebaran unsur kebudayaan dapat terjadi tanpa ada perpindahan kelompok manusia atau bangsa, tetapi adanya individu- individu yang membawa unsur kebudayaan nya ketempat lain, mereka adalah apara pedagang dan penyebar agama. Faktor yang paling penting dari difusi kebudayaan adalah karena adanya suatu pengakuan bahwa unsur yang dibawa atau unsur baru itu mempunyai kegunaan dalam masyarakat .
PERSEBARAN KEBUDAYAAN
Budaya di Desa Temajuk:
Didesa Temajuk banyak tradisi-tradisi yang dapat di temukan disana seperti umumnya tradisi yang ada di Daerah Kabupaten Sambas, dan peneliti hanya mengambil dua adat budaya yang ada yaitu Adat Budaya Pernikahan dan budaya 1 Muharram, berikut ini akan dipaparkan mengenai tradisi tersebut:
Adat Budaya Pernikahan
Prosesi Betangas
Satu atau dua hari sebelum hari memotong/ hari pertama pesta, diadakan acara “betangas” atau “ditangas” dan acara “bekasai”. Betangas adalah cara mandi uap bagi pengantin pria dan wanita dirumah masing- masing, yakni dimasukkan dalam satu tempat tertutup hanya sedikit saja yang dibuatkan lubang supaya tidak lemas. Didalamnya ditempatkan wadah berisi rebusan serai dan rempah-rempah. Calon pengatin duduk berjongkok didekat tungku, lalu diselubungi dengan tikar pandan dalam bentuk tabung besar yang diatasnya ditutup rapat- rapat dengan kain. Kemudian si calon pengantin mengaduk- aduk air dalam ceret tadi (berisi daun- daun atau rempah- rempah yang mempunyai wangi yang khas seperti daun serai wangi yang telah direbus) secara berulang-ulang sehingga berkeluaran lah uapnya dan membasahi seluruh tubuhnya. Hal itu dilakukan secara berulang- ulang sampai satu atau dua jam dan dapat juga sampai air rebussan di dalam ceret tadi habis. Tujuan utama betangas antara lain untuk membuang bau badan dan membersihkan pori-pori, sehingga pada waktu bersanding “tidur bersama” bau badannya harum dan terasa segar.
Bekasai adalah menggosok / melulur seluruh tubuh dengan campuran tepung beras dan rempah wangian, biasanya hanya dilakukan oleh calon pengantin perempuan. Bekasai berasal dari kata kasai yaitu sejenis param yang terbuat dari tepung beras dicampuri rempah seperti cekur / kencur dan rempah lainnya. Tujuan dari bekasai adalah supaya kulit menjadi halus dan mulus sehingga nantinya akan lebih memperindah dalam berhubungan suami isteri. Setelah bekasai dan belanggir kemudian mandi badan dan rambut dikeramas dengan kulit langir yang berfungsi sebagai shampo.
Tradisi betangas dan bekasai sampai pada saat ini masih di jalankan oleh masyarakat Desa Temajuk dan umumnya masyarakat asal Kabupaten Sambas dan hal ini dianggap sangat wajib untuk di jalankan kerena melihat manfaat dari tradisi tersebut yang sungguh banyak manfaat yang diperoleh.
Tradisi Antar pakatan
Antar pakatan berasal dari kata “Antar” yang artinya “membawa atau menghantarkan” sementara “pakatan” itu artinya “sepakat, setuju atau mufakat”. Antar pakatan adalah suatu adat istiadat dimana seseorang atau satu keluarga yang di undang kesuatu acara besar membawa beras, uang dan seekor ayam. Tamu yang diundang itu membawa uang, beras sekitar 1 KG yang dimasukkan kedalam baskom atau ember kecil yang ada penutupnya untuk diserahkan kepada mempelai atau orang yang mengadakan acara. Barang- barang tersebut diberikan pada saat akan bersalaman dengan pihak mempelai atau keluarga dari yang mengadakan pekerjaan, dan memberikan uang pada saat bersalaman nominalnya biasa dua ribu rupiah atau lebih.
Tradisi saprahan
Di Desa Temajuk memang masih melestarikan tradisi saprahan atau makan besaprah. Dimana saprahan merupakan adat tradisi kebiasaan turun- temurun dalam menghidangkan makanan yang dilakukan sehari-hari dirumah tangga terutama didesa- desa dari Kabupaten Sambas. Saprahan merupakan acara makan bersama dengan duduk bersila berkelompok, setiap kelompok terdiri dari 6(enam) orang. Dalam kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga, acara saprahan menjadi keharusan bagi masyarakat Kabupaten Sambas khususnya di Desa Temajuk.
Makna dan pengertian dari saprahan dalam masyarakat melayu Sambas yang identik dengan Islam sejak zaman dahulu hingga sekarang tetap dilestarikn dan terpelihara, berpedoman pada enam rukun iman dan lima rukun Islam. Makan besaprah disantap oleh 6(enam) orang setiap saprahannya dengan pengertian rukun iman, dan untuk lauk- pauknya yang dihidangkan biasanya ada 5(lima) piring atau lima jenis yang mengandung makna rukun Islam. Makan besaprah harus bersama- sama serempak mulai menyusun dari atas hingga ke bawah atau dari yang tertua hingga yang muda. Tidak ada perbedaan menu masakan untuk sajian saprahan antara rakyat biasa, pimpinan, dan pemuka pemuka masyarakat duduk menghadap sajian saprahan, makan dengan teratur, sopan, dan beradat.
Bentuk-bentuk saprahan ada 2 macam yaitu:
Saprahan memanjang
Saprahan memanjang adalah sajian makanan disusun disajikan diatas kain yang memanjang (kain putih yang memanjang) sepanjang ruang yang disiapkan ditempat acara jamuan. Tamu duduk berhadap- hadapan diruang yang telah disiapkan.Saprahan memanjang ini tidak ada lagi ditemukan dan tidak ditemukan lagi di daerah kabupaten Sambas, hanya ada di luar kabupaten Sambas.
Saprahan Pendek
Saprahan pendek adalah bentangan mengamparkan kain saprahan (alas) ukuran pendek 1 X 1 Meter saja dan diatasnya hamparan tersebut diletakkan sajian makanan yang akan disantap oleh para tamu undangan. Tiap saprahan pendek ini dihadapi oleh 6 (enam) orang dengan cara duduk melingkari saprahan. Saprahan bentuk pendek inilah yang masih dilaksanakan di Kabupaten Sambas khususnya di Desa Temajuk sampai saat sekarang ini.
Budaya 1 Muharram
Tradisi Bepapas
Bepapas adalah salah satu tradisi khususnya pada muslim melayu Sambas ,yang biasa dilaksanakan pada acara tertentu misal: acara 1 Muharram, tepung tawar (syukuran bayi baru lahir), pindah rumah, mendirikan rumah baru, tolak bala dll. Alat-alat bepapas: 1. Daun enjuang, daun imbali daun mentibar. 2. Kasai langgir, yang dicairkan dengan air lalu dibacaan doa selamat dan doa tolak bala’.
Di Temajuk masih ada sebagian masyarakat yang menjalankan tradisi bebapas ini dan ada juga dari sebagian orang yang sudah paham agama yang tidak lagi menjalankan tradisi bepapas tersebut karena memandang tepung tawar atau bepapas adalah tradisi orang agama Hindu-Budha.
Tradisi Makan-makan
Menu makanan pada saat 1 Muharram adalah seperti ketupat ,kue lapis , bubur padas, nasi lengkap dan ada menu yang lain juga,dan untuk minumnya: air putih, air susu, kopi susu dan air manis (menu tersebut tergantung pada pribadi masing-masing) Dimasyarakat Kabupaten Sambas khususnya di Desa Temajuk dalam 1 Muharram dijadikan hari raya ke tiga setelah hari raya Idul fitri dan Idul Adha,di momen-momen seperti ini dijadikan ajang untuk bersilaturahmi sambil mengadakan acara-makan-makan dengan para tetangga atau keluarga.
Tradisi di Kampung Teluk Malano, Malaysia
Di Teluk Malano, Malaysia terdapat beberapa tradisi yang ada dan penulis hanya mencantumkan 2 tradisi yang ada disana seperti Tradisi pernikahan dan tradisi 1 Muharram , dimana tradisi tersebut mempunyai persamaan sepeerti tradisi yang ada di Desa Temajuk, berikut akan di paparkan:
Budaya Pernikahan
Tradisi Betangas
Di Teluk Malano sama hal nya juga dengan tradisi di Desa Temajuk ada juga prosesi betangas, dan waktu pelaksanaannya juga sama, bahan-bahan yang digunakan juga sama.
Tradisi Antar pakatan
Di Teluk Malano juga ada antar pakatan, antar pakatan di Teluk Malano juga membawa beras, uang dan ayam sama seperti di Temajuk..
Tradisi Besaprah
Tradisi besaprah diteluk melano berbeda dengan tradisi di Temajuk dimana di Teluk Malano saprahannya berbentuk memanjang dimana sajian makanannya disusun disepanjang ruang yang telah ditentukan.
Budaya 1 muharram
Budaya 1 muharam di Teluk Melano masih dijalankan oleh para penduduk disana tetapi sedikit berbeda dengan tradisi yang ada didesa Temajuk pada saat 1 Muharram. Di Teluk Melano tradisi 1 muharam tidak lagi menggunakan tradisi bepapas hanya ada acara silaturrahmi dengan tetangga dan acara makan- makan saja, menu- menu makanan dan minumannya ada yang sama dengan makanan di Temajuk seperti : ketupat, kue lapis, bolu dan makanan yang lainnya.
Hasil wawancara:
Bapak Rusdi (berumur kurang lebih 63 tahun)
Menurut pemaparan beliau bahwa tradisi pernikahan di Temajuk masih sama seperti tradisi pernikahan zaman dahulu, hanya saja jumlah dalam satu saprahan ada yang berjumlah lima orang dan ada juga yang enam orang, untuk tempat acara pernikahan tetap menggunakan Tarup .
Aki / Bapak Zulkarnain (berumur kurang lebih 70 tahun, pak Lebai (pemuka agama pertama di Temajuk)
Menurut pemaparaan beliau sama seperti perkataan ki Rusdi, dan beliau juga memaparkan tradisi betangas(prosesi sebelum pernikahan dilaksanakan) di sana masih tetap dilaksanakan dari turun temurun.
Aki / Bapak Adni (berumur kurang lebih 62 tahun, pak Lebai/ pemuka agama Desa Temajuk yang sekarang)
Menurut beliau tradisi pernikahan di sana tetap di jalankan tradisi besaprah, tetap menggunakan tarup dan juga masih ada prosesi betangas
Nekmah(berumur sekitar 60 Tahun) Penduduk asli Teluk Malano
Berdasarkan pemaparan beliau bahwa di Teluk Malano memang sejak dari dahulu sudah di jalankan tradisi 1 Muharram dan Tradisi pernikahan dimana asal muasal tradisi tersebut memang berasal dari Kabupaten Sambas tepatnya di Desa Temajuk Kecamatan Paloh, di 2 budaya tersebut memang ada sedikit perbedaan diantara Tradisi di Desa Temajuk dengan Teluk Malano. Salah satu perbedaannya ialah di Teluk Malano dalam budaya 1 Muharram tidak ada tradisi bepapas didalamnya, hanya saja disana menjalankan/ memperingati 1 Muharram itu untuk silaturahmi dengan tetangga dan terdapat pula acara makan- makan sama halnya dengan Desa Temajuk.
PENUTUP
Pembahasan mengenai kebudayaan ataupun tradisi Melayu tentu saja merupakan kajian yang menarik bagi para peneliti, karena tentu saja akan dikaji dari berbagai aspek. Kebudayaan tersebut merupakan suatu simbol dari suatu daerah tertentu misalkan saja seperti tradisi yang telah dipaparkan di atas. Kebudayaan di setiap daerah atau negara memang berbeda- beda tetapi ada persamaan dari kebudayaan tersebut. Itulah sebagai identitas suatu bangsa atau daerah.
LAMPIRAN
Antar pakatan.
Contoh Tarub
Makan Besaprah bentuk pendek
Saprahan bentuk memanjang
Acara 1 muharam ,di Teluk Malano
Suasana 1 Muharram saat membacakan doa, Di Temajuk
Suasana makan-makan saat 1 Muharram di Desa Temajuk
Tempat untuk betangas
Suasana saat betangas
DAFTAR PUSTAKA
Fathoni, Abdurahmat. 2006. Antropologi Sosial Budaya. Jakarta: Rineka Cipta
Gunarto, Alang dkk. 2017. Bunga Rampai Seni, Budaya & Sejarah Pejuang Sambas . Pontianak: TOP Indonesia.
Kaplan, David dan Robert A Manner. 1999. Teori Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Monografi Desa Temajuk Tahun 2018.
Liliweri,Alo.2014. Pengantar Studi kebudayaan, Bandung: Nusa Media
S.Arpan. 2009. Saprahan Adat Budaya Melayu Sambas. Sambas: Majelis Adat Budaya Melayu Kabupaten Sambas
Saepul Hamdi,Asep dan E.Bahruddin. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif Aplikasi dalam Pendidikan. Yogyakarta: Deepublish.
Tim Penyusun Kurikulum Muatan Lokal: 1994 Provinsi Kalimantan Barat. Upacaya Adat Suku Dayak dan Melayu di Kalimantan Barat.