“PERDAMAIAN NUSANTARA DI PALU SULAWESI TENGAH”
OLEH: Balqis Muliya Isnani isnanibalqismuliya@gmail.com
Di Palu Sulawesi tengah terdapat Gong Perdamaian Nusantara gong tersebut berada di atas Bukit berjarak sekitar 2 Kilo Meter di belakang Mako Polda Sulawesi Tengah berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta, Desa Plajan, Kelurahan Tondo, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. Jarak tempuh untuk menuju tempat ini jika melalui Jalan Soekarno-Hatta mencapai sekitar 10 menit dengan menggunakan kendaraan (mobil atau sepeda motor).
Perjalanan menuju gong dan monumen perdamaian para wisatawan akan melihat-lihat keindahan perbukitan, dapat melihat burung-burung yang berterbangan di sekitaran bukit, dan melewati jalanan perbukitan dengan jalan yang sudah di aspal dan jalan tersebut memiliki luas cukup lebar dan bisa untuk muatan 1 mobil dan 1 sepeda motor jika berkendaran bersamaan, kondisi jalanan di sana berbelok-belok dan mendaki jadi jika kita menggunakan kendaraan harus berhati-hati apalagi saat berpapasan berlawanan arah dengan kendaraan yang lain. Untuk masuk ke tempat wisata ini kita hanya mengeluarkan uang sebesar 10 Ribu Rupiah untuk membeli tiketnya, setelah kita membeli tiket maka tidak terlalu jauh dari tempat pembelian tiket kita akan di sediakan tempat parkiran motor, dan tepat di depan parkiran motor ada jalur untuk menuju gong tersebut, jika kita melalui jalut tersebut kita harus melewati 3 lantai di lantai pertama kita harus menaiki 8 anak tangga, di lantai dua kita harus menaiki 15 anak tangga dan di lantai tiganya menaiki 20 anak tangga. Di tempat ini selain memiliki keindahan yang sangat luar bisa tetapi tempat ini memiliki nilai sejarah dan nasionalisme yang tinggi.
Gong perdamaian Nusantara Gong perdamaian Nusantara ini sebelumnya berada di desa Plajan Kecamatan Pakis Aji Kabupaten Jepara Jawa Tengah, tetapi karena kota Palu sering di landa konflik dan kota Palu ini sering di kenal sebagai daerah rawan konflik, maka gong tersebut akhirnya di pindahkan ke Palu Sulawesi Tengah, di pindahkannya gong ini bertujuan sebagai sarana persaudaraan dan persatuan demi terwujudnya perdamaian di Nusantara Indonesia. Gong Perdamaian Nusantara yang berada di Palu ini merupakan gong yang ke-Empat setelah sebelumnya di bangun di daerah Yogyakarta, Kupang (Nusa Tenggara Timur) dan Singkawang (Kalimantan Barat). Gong ini resmikan pada tanggal 11 Maret 2014. Gong ini memiliki 2 lantai dan gong ini berada di lantai dua, gong ini berwarna kuning keemasan berdiameter sebesar 2 meter dan berat 180 Kilogram, gong tersebut berbentuk bulat dan memiliki 4 lingkaran yaitu: lingkaran tengah atau lingkaran pertama : terdapat peta Indonesia, lingkaran kedua: terdapat simbol 5 agama yang ada d Indonesia yakni, Islam, Kristen, Hindu Budha dan Konghucu, pada lingkaran ketiga: ada 33 lambang beserta nama Provinsi yang ada di Indonesia yakni: Nenggroe Aceh Darussalam, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, Lampung, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi barat, Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, dan lingkaran yang terakhir atau lingkaran paling luar mencantumkan 444 logo beserta nama Kabupaten/kota di Indonesia.
Tidak hanya Gong Perdamaian Nusantara Palu yang terkenal di kawasan ini tetapi di lokasi yang sama tidak jauh dari Gong Perdamaian ada juga sebuah Monumen yaitu “Monumen Nosarara Nosabatutu” penamaan Nosarara Nosabatutu ini berasal dari bahasa Kaili (Suku asli di Sulawesi Tengah) ini memiliki arti “Kita Bersaudara, Kita Bersatu”. Semboyan ini merupakan pemersatu bagi keberagaman masyarakat Sulawesi Tengah yang terdiri dari berbagai suku dan agama, tujuan di bangun sebuah monumen atau tugu ini ialah sebagai simbol persatuan dan perdamaian masyarakat Sulawesi Tengah pasca konflik komunal yang terjadi di Poso, Monumen ini dibangun sekitar rentang tahun 1998 sampai tahun 2000, monumen ini memiliki luas 800 meter persegi dan memiliki tiga lantai, lantai ini memiliki fungsinya masing-masing: Lantai dasar atau lantai Pertama: berfungsi sebagai pusat museum perdamaian yang mengandung nilai-nilai luhur yang harus dijunjung tinggi, seperti ajaran perdamaian dari berbagai ajaran agama dan di lantai ini juga terdapat pesan-pesan perdamaian dari berbagai tokoh-tokoh perdamaian, di lantai Kedua: dikhususkan untuk museum karya seni nusantara yang berisi beragam karya seni khas Indonesia yang wajib kita lestarikan, dan di lantai Tiga: merupakan museum khusus yaitu bahaya dari penyalahgunaan narkoba, karena pentingnya menghindari narkoba, maka dibuatkan museum khusus sebagai pencegah terhadap ancaman generasi bangsa Indonesia. Bangunan tiga lantai ini di dirikan bukan hanya sekedar didirikan tanpa memiliki makna, tetapi bangunan ini memiliki makna yang sangat luar biasa yaitu: ketika hidup manusia harus mampu menyeimbangkan hubungannya dengan sang pencipta atau Tuhan, dengan manusia dan lingkungannya. Tugu ini juga dibangun dengan bentuk segi lima di lengkapi dengan lima buah tiang yang menggambarkan sila Pancasila, pada bagian pagar-pagarnya dibuat dengan berbagai macam bentuk menggunakan besi, seperti bentuk orang atau manusia dan bangunan tempat ibadah dari berbagai agama, ini mencerminkan keberagaman Suku Budaya dan Agama yang bersatu dengan Bhineka Tunggal Ika
Monumen atau tugu Nosarara Nosabatutu ini di jadikan tempat wisata atau ramai di kunjungi sejak di resmikannya gong perdamaian yaitu pada tahun 2014, di atas monumen ini pada siang harinya para wisatawan akan di suguhkan dengan berbagai keindahan alam Palu, seperti dapat melihat teluk Palu, memandang perbukitan dan dapat melihat sunset dan pada malam harinya para wisatawan akan di manjakan dengan pemandangan rumah-rumah warga dengan pancaran lampu-lampunya.
Selain monumen dan Gong yang berada di lokasi ini, tetapi ada berbagai fasilitas yang di sedikan di sana seperti:
Kebun binatang
Kebun binatang yang ada disini merupakan kebun binatang mini binatang yang ada disini merupakan kumpulan satwa yang sudah langka dan merupakan satwa yang berasal dari daerah setempat seperti burung maleo.
Dan pada saat saya mendatangi tempat ini terlihat kebun binatang tesebut tidak lagi terurus.
Taman bunga
Taman bunga yang ada disini memiliki ukuran yang tidak terlalu besar, tanaman yang ada disini merupakan tanaman yang sudah langka dan merupakan tanaman asli dari Sulawesi Tengah seperti anggrek hitam, dan ada juga bunga yang aslinya berasal dari luar Sulawesi tengah seperti bunga Kamboja, bunga Kertas, bunga Jepun, bunga Tabebuai, bunga Terompet, bunga Bromelia, bunga Lidah Mertua. Dan di lokasi gong perdamaian ini di penuhi dengan tanaman berbagai jenis bunga-bunga, jadi tidak hanya di taman saja yang ada bunganya tetapi hampir di setiap sudut ada berbagai jenis pohon dan juga bunga dan dengan bunga yang berwarna warni.
Gedung serbaguna
Gedung serbaguna yang didirikan di kawasan ini cukup memadai. Biasanya gedung ini digunakan untuk di selenggarakannya pelatihan-pelatihan, pembinaan maupun pertemuan khusus untuk masyarakat.
Panggung
Di panggung ini dibuat dengan desain terbuka dan memiliki kolam renang, disini juga di sediakan tempat pameran karya seni serta sarana perkemahan.
Taman bersantai dan pondok wisata
Di kawasan wisata ini juga terdapat spot foto yang menarik berupa taman bersantai dan pondok, tempat ini sengaja di buat agar dapat memanjakan para pengunjung untuk menikmati suasana disana sambil melihat pemandangan yang asri di kota Palu dari ketinggian
Kafe
Di lokasi wisata ini juga terdapat sebuah kafe yang menyediakan berbagai jenis minuman dan makanan. Beberapa menu minuman yang tersedia disini diantaranya: cappucino, teh dingin/ panas, kopi susu dan jenis minuman yang lain. Sedangkan menu makanan yang di sediakan disini diantaranya yaitu stik pisang, mie kuah, mie goreng, binte pulut, mie stebas dan jenis makanan yang lainnya.
Mushola dan toilet
Nah belum lengkap suatu tempat wisata jika tidak ada musholanya, nah alhamdulillah di tempat ini menyediakan mushola untuk para wisatawan yang beragama Islam untuk melaksanakan sholat.
Pada bagian ini penulis akan memaparkan tulisan (yang dipajang di panggung) dari sambutan KAPOLDA Sulawesi Tengah periode 2011-2013 yang bernama Drs.Dewa Parsana.M,Si, berikut isi sambutan beliau yang di sampaikan pada tanggal 11 Maret 2013, sebagai berikut:
Latar belakang di bangunnya taman wisata budaya dan edukasi gong perdamaian nusantara “Nosarara Nosabatutu” di palu Sulawesi Tengah, penulis akan menjelaskan secara singkat sebagai berikut:
Pada tahun 2000 sampai tahun 2013 terjadi konflik kekerasan sosisl khususnya di daerah Poso dan juga terjadi dibeberapa daerah lainnya di Sulteng, silih berganti banyak bentuk dan jenis kekerasan yang terjadi.
Ada beberapa kejadian dan dampak kerugian yang timbul dari kekerasan yang memilukan tersebut seperti:
Timbulnya korban jiwa dari orang-orang yang tidak berdosa.
Banyaknya korban jiwa dari berbagai kalangan sipil dan dari unsur pemerintahan (POLRI/TNI) pemuda dan masyarakat.
Banyaknya bangunan dibakar yang hanya menyisakan puing-puing reruntuhan bangunan seperti tempat-tempat ibadah, gedung pemerintahan, pasar umum toko-tok, kios, warung, serta rumah-rumah penduduk.
Perkebunan coklat yang subur dan sawah pertanian serta peternakan, terbengkalai pemiliknya karena pindah untuk menyelamatkan diri dan yang tertinggala dalah rasa ketakutan dan penderitaan yang mendalam di hati masyarakat.
Kejadian konflik tersebut terjadi berbulan-bulan bahkan berahun-tahun, alhamdulillah masyarakat dan komponen lainnya secara bertahap dapat menyelesaikan konflik kekerasan, yang tentunya dapa membawa keprihatinan kepaa siapapun sebagai warga negara.
Pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2013 pak Dewa diberi tanggung jawab dan amanah sebagai Wakapolda dan Kapolda sulteng mendapat indikasi bahwa kasus kekerasan Poso belum sepenuhnya tuntas, dan sangat berpotensi akan bisa terulang kembali di daerah lain seperti Palu, Sigi dan daerah lainnya. Karena “Ketertiban Sosial” di masayarakat masih terganggu . Sebagai salah satu indikasinya adalah adanya “oknum-oknum dalam masayrakat yang membawa jargon agama, suku dan sentimen kebhinekaan untuk saling membenci orang yang berbeda paham dan perbedaan” sebagaimna awal terjadinya konflik kekerasan ynag terjadi di Poso.
Dalam kurun waktu menjabat Kapolda Sulteng ada 3 jenis kekeraasan yang mewarnai sering terjadi kekerasan yang sangat meresahkan masyarakat dengan berbagai macam yang melatarbelakanginya anatara lain sebagai berikut:
Kekerasan berbentuk teror kekerasan dan kelompok sipil bersenjata yang mengatasnamakan agama keyakinan yang menimbulkan korban jiwa
Kekerasan berbentuk perang antar desa kampung menimbulkan banyak kerugian maeril dan korban jiwa
Kekerasan dampak dari kesenjangan sosial (kemiskinan)
Kekerasan dampak dari penyalahgunaan miras dan narkoba
Kekerasan dampak dari sisa-sisa konflik pasca kegiatan pilkada
Akibat budaya “sumbu pendek” sehingga dari hal-hal yang sangat sepele memunculkan kekerasan dalam masyarakat, karena sangat terbatasnya tempat-tempat hiburan / wisata untuk masyarakat yang dapat menurunkan ketegangan emsional “sumbu pendek” dalam masayarakat.
Dengan latar belakangan permasalahan ynag multi kompleks di Sulawesi Tengah sebagaimna di jabarkan di atas tentunya kepolisian pasti tidak bisa menghapinya hanya dengan pendekatan hukum dan atau kekuatan senjata sekalipun sehingga program pendekatan Polda yang diarahkan kepada kegiatan “membangun keamanan dengan pendekatan pembangan perdamaian dan kesejahteraan” ditingkat pedesaan dengan kearifan lokal setempat bersama komponen terkait.
Tujuan dibuatnya taman wisata budaya dan edukasi gong perdamaian nusantara “Nosarara Nosabatutu” antara lain:
Dapat memberikan edukasi kepada masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tenang KEBHINEKAAN, PANCASILA dan UUD 1945 dalam bingkai NKRI yang kita cintai dan kita banggakan
Upaya mencegah terulangkembali konflik kekerasan sosial seperti kejadian yang pernah terjadi di Poso
Nama “Nosarara Nosabatutu” adalah bahasa daerah Kaili (bahasa Lokal) yang artinya “Bersaudara dan Bersatu” sebagai upaya penguaan kearifan lokal “walaupun buka saudara dalam satu iman tetapi saudara dalam kemanusian sebagai suatu anugrah” sehingga siapapun dan apapun agamanya, sukunya, etnisnya yang tinggi di tanah Kaili atau di Sulawesi Tengah wajib bersama menjaga kerukuan dan perdamian sebagai “satu saudara warga Indonesia” yang menjunjung tinggi kebhinekaan, pancasila, UUD 1945 dalam bingkai NKRI
Dibangunnya Graha “Pogombo Natesa Belo”yang artinya balai peremuan untuk musyawarah dengan berbicara yang santun, baik dan damai. Sebagai upaya mencari solusi dalam menjaga kerukunan dan perdamaian yang universal.
Menambah tempat hiburan / wisata di wilayah Sulawesi Tengah dan khususnya di kota Palu yang jumlahnya sangat terbatas sebagai upaya menurunkan tingkat emosiaonal ketegangan sosial “sumbu pendek” dalam masyarakat.
Harapan kedepan
Di samping lokasi ini menjadi tempat edukasi perdamaian diharapan juga menjadi lokasi antara lain:
Menjadi pionir edukasi penggerak ekonomi kreatif denagan mengubah lahan yang kering tandus dan terlantar menjadi kawasan wiasata terpadu yang dipadukan dengan membangun kebun raya buah naga bersama kelompok-kelompok tani disekitar desa tersebut. Guna mendorong kesejahteraan warga di sekitarnya.
Menjadi kawasan konservasi. Dari lahan yang krisis, gundul dan gersang melalui kegiatan penghijauan sebagai cadangan sumber air kota Palu.
Menjadi tempat penelitian, bidang pertanian, perkebunan, peternakan bagi kampus-kampus perguruan tinggi yang ada di Palu khususnya dan Sulawesi Tengah pada umumnya
Menjadi lokasi perlindungan dan penangkaran satwa langka, satwa endemik, Sulawesi Tengah seperti burung Maleo dan lainnya
Ikut membantu menggerakkan sektor pariwisata daerah (pariwisata yang berwawasan budaya, aman hijau, dan bersih)
Dibangunnya jalan membelah perbukitan dapat menghubungkan (kota Palu) kelurahan Tondo menuju kelurahan Paboya dan sekaligus berfungsi sebagai jalan “evaluasi” jika warga Palu terdampak bencana Tsunami
LAMPIRAN-LAMPIRAN:
Plang Petunjuk Arah yang Ada Ditepi Jalan Raya
Foto Penulis Saat Berada Di Gong Perdamaian Nusantara Palu
Gong Perdamaian Tampak Dari Depan
Pemandangan Bawah Lokasi Wisata Monumen Nosarara Nosabatutu Dari Atas
Saat Berada Di Lantai 3 Monumen
Dokumentasi Sambutan Kapolda Sulteng Periode 2011-2013
Lokasi Kebun Binatang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar