Selasa, 19 Agustus 2025

Perdamaian Nusantara Di Palu Sulawesi Tengah

 “PERDAMAIAN NUSANTARA DI PALU SULAWESI TENGAH”

OLEH: Balqis Muliya Isnani isnanibalqismuliya@gmail.com

Di Palu Sulawesi tengah terdapat Gong Perdamaian Nusantara gong tersebut berada di atas Bukit berjarak sekitar 2 Kilo Meter di belakang Mako Polda Sulawesi Tengah berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta, Desa Plajan, Kelurahan Tondo, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. Jarak tempuh untuk menuju tempat ini jika melalui Jalan Soekarno-Hatta mencapai sekitar 10 menit dengan menggunakan kendaraan (mobil atau sepeda motor).

Perjalanan menuju gong dan monumen perdamaian para wisatawan akan melihat-lihat keindahan perbukitan, dapat melihat burung-burung yang berterbangan di sekitaran bukit, dan melewati jalanan perbukitan dengan jalan yang sudah di aspal dan jalan tersebut memiliki luas cukup lebar dan bisa untuk muatan 1 mobil dan 1 sepeda motor jika berkendaran bersamaan, kondisi jalanan di sana berbelok-belok dan mendaki jadi jika kita menggunakan kendaraan harus berhati-hati apalagi saat berpapasan berlawanan arah dengan kendaraan yang lain. Untuk masuk ke tempat wisata ini kita hanya mengeluarkan uang sebesar 10 Ribu Rupiah untuk membeli tiketnya, setelah kita membeli tiket maka tidak terlalu jauh dari tempat pembelian tiket kita akan di sediakan tempat parkiran motor, dan tepat di depan parkiran motor ada jalur untuk menuju gong tersebut, jika kita melalui jalut tersebut kita harus melewati 3 lantai di lantai pertama kita harus menaiki 8  anak tangga, di lantai dua kita harus menaiki 15 anak tangga dan di lantai tiganya menaiki  20 anak tangga. Di tempat ini selain memiliki keindahan yang sangat luar bisa tetapi tempat ini memiliki nilai sejarah dan nasionalisme yang tinggi. 

Gong perdamaian Nusantara Gong perdamaian Nusantara ini sebelumnya berada di desa Plajan Kecamatan Pakis Aji Kabupaten Jepara Jawa Tengah, tetapi karena kota Palu sering di landa konflik dan kota Palu ini sering di kenal sebagai daerah rawan konflik, maka gong tersebut akhirnya di pindahkan ke Palu Sulawesi Tengah, di pindahkannya gong ini bertujuan sebagai sarana persaudaraan dan persatuan demi terwujudnya perdamaian di Nusantara Indonesia. Gong Perdamaian Nusantara yang berada di Palu ini merupakan gong yang ke-Empat setelah sebelumnya di bangun di daerah Yogyakarta, Kupang (Nusa Tenggara Timur) dan Singkawang (Kalimantan Barat). Gong ini resmikan  pada tanggal 11 Maret 2014. Gong ini memiliki 2 lantai dan gong ini berada di lantai dua, gong ini berwarna kuning keemasan berdiameter sebesar 2 meter dan berat 180 Kilogram, gong tersebut berbentuk bulat dan memiliki 4 lingkaran yaitu: lingkaran tengah atau lingkaran pertama : terdapat peta Indonesia, lingkaran kedua: terdapat simbol 5 agama yang ada d Indonesia yakni, Islam, Kristen, Hindu Budha dan Konghucu, pada lingkaran ketiga: ada 33 lambang beserta nama Provinsi yang ada di Indonesia yakni: Nenggroe Aceh Darussalam, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, Lampung, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi barat, Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, dan lingkaran yang terakhir atau lingkaran paling luar mencantumkan 444 logo beserta nama Kabupaten/kota di Indonesia.

Tidak hanya Gong Perdamaian Nusantara Palu yang terkenal di kawasan ini tetapi di lokasi yang sama tidak jauh dari Gong Perdamaian ada juga sebuah Monumen yaitu “Monumen Nosarara Nosabatutu” penamaan Nosarara Nosabatutu ini berasal dari bahasa Kaili (Suku asli di Sulawesi Tengah) ini memiliki arti “Kita Bersaudara, Kita Bersatu”. Semboyan ini merupakan pemersatu bagi keberagaman masyarakat Sulawesi Tengah yang terdiri dari berbagai suku dan agama, tujuan di bangun sebuah monumen atau tugu ini ialah sebagai simbol persatuan dan perdamaian masyarakat Sulawesi Tengah pasca konflik komunal yang terjadi di Poso, Monumen ini dibangun sekitar rentang tahun 1998 sampai tahun 2000,  monumen ini memiliki luas 800 meter persegi  dan memiliki tiga lantai, lantai ini memiliki fungsinya masing-masing: Lantai dasar atau lantai Pertama: berfungsi sebagai pusat museum perdamaian yang mengandung nilai-nilai  luhur yang harus dijunjung tinggi, seperti ajaran perdamaian dari berbagai ajaran agama dan di lantai ini juga terdapat pesan-pesan  perdamaian  dari berbagai tokoh-tokoh  perdamaian, di lantai Kedua: dikhususkan untuk museum karya seni nusantara yang berisi beragam karya seni khas Indonesia yang wajib kita lestarikan, dan di lantai Tiga: merupakan museum khusus yaitu bahaya dari penyalahgunaan narkoba, karena pentingnya menghindari narkoba, maka dibuatkan museum khusus sebagai pencegah terhadap ancaman generasi bangsa Indonesia. Bangunan tiga lantai ini di dirikan bukan hanya sekedar didirikan tanpa memiliki makna, tetapi bangunan ini memiliki makna yang sangat luar biasa yaitu: ketika hidup manusia harus mampu menyeimbangkan hubungannya dengan sang pencipta atau Tuhan, dengan manusia dan lingkungannya. Tugu ini juga dibangun dengan bentuk segi lima di lengkapi  dengan lima buah tiang yang menggambarkan sila Pancasila, pada bagian pagar-pagarnya dibuat dengan berbagai macam bentuk menggunakan besi, seperti bentuk orang atau manusia dan bangunan tempat ibadah dari berbagai agama,  ini mencerminkan keberagaman Suku Budaya dan Agama yang bersatu dengan Bhineka Tunggal Ika 

Monumen atau tugu Nosarara Nosabatutu  ini di jadikan tempat wisata atau ramai di kunjungi sejak di resmikannya gong perdamaian yaitu pada tahun 2014, di atas monumen ini pada siang harinya para wisatawan akan di suguhkan dengan berbagai keindahan alam Palu, seperti dapat melihat teluk Palu, memandang perbukitan dan dapat melihat sunset dan pada malam harinya para wisatawan akan di manjakan dengan pemandangan rumah-rumah warga dengan pancaran lampu-lampunya.

Selain monumen dan Gong yang berada di lokasi ini, tetapi ada berbagai fasilitas yang di sedikan di sana seperti:

Kebun binatang

Kebun binatang yang ada disini merupakan kebun binatang mini  binatang yang ada disini merupakan kumpulan satwa yang sudah langka dan merupakan satwa yang berasal dari daerah setempat seperti burung maleo.

Dan pada saat saya mendatangi tempat ini terlihat kebun binatang tesebut tidak lagi terurus. 

Taman bunga

Taman bunga yang ada disini memiliki ukuran yang tidak terlalu besar, tanaman yang ada disini merupakan tanaman yang sudah langka dan merupakan tanaman asli dari Sulawesi Tengah seperti anggrek hitam, dan ada juga bunga yang aslinya berasal dari luar Sulawesi tengah seperti bunga Kamboja, bunga Kertas, bunga Jepun, bunga Tabebuai, bunga Terompet, bunga Bromelia, bunga Lidah Mertua. Dan di lokasi gong perdamaian ini di penuhi dengan tanaman berbagai jenis bunga-bunga, jadi tidak hanya di taman saja yang ada bunganya tetapi hampir di setiap sudut ada berbagai jenis pohon dan juga bunga dan dengan bunga yang berwarna warni.

Gedung serbaguna

Gedung serbaguna yang didirikan di kawasan ini cukup memadai. Biasanya gedung ini digunakan untuk di selenggarakannya pelatihan-pelatihan, pembinaan maupun pertemuan khusus untuk masyarakat.

Panggung

Di panggung ini dibuat dengan desain terbuka dan memiliki kolam renang, disini juga di sediakan tempat pameran karya seni serta sarana perkemahan.

Taman bersantai dan pondok wisata

Di kawasan wisata ini juga terdapat spot foto yang menarik berupa taman bersantai dan pondok, tempat ini sengaja di buat agar dapat memanjakan para pengunjung untuk menikmati suasana disana sambil melihat pemandangan yang asri di kota Palu dari ketinggian

Kafe

Di lokasi wisata ini juga terdapat sebuah kafe yang menyediakan berbagai jenis minuman dan makanan. Beberapa menu minuman yang tersedia disini diantaranya: cappucino, teh dingin/ panas, kopi susu dan jenis minuman yang lain. Sedangkan menu makanan yang di sediakan disini diantaranya yaitu stik pisang, mie kuah, mie goreng, binte pulut, mie stebas dan jenis makanan yang lainnya.

Mushola dan toilet

Nah belum lengkap suatu tempat wisata jika tidak ada musholanya, nah alhamdulillah di tempat ini menyediakan mushola untuk para wisatawan yang beragama Islam untuk melaksanakan sholat.


Pada bagian ini penulis akan memaparkan tulisan (yang dipajang di panggung) dari sambutan  KAPOLDA Sulawesi Tengah periode 2011-2013 yang bernama Drs.Dewa Parsana.M,Si, berikut isi sambutan beliau yang di sampaikan pada tanggal 11 Maret 2013, sebagai berikut:

Latar belakang di bangunnya taman wisata budaya dan edukasi gong perdamaian nusantara “Nosarara Nosabatutu” di palu Sulawesi Tengah, penulis akan menjelaskan secara singkat sebagai berikut:

Pada tahun 2000 sampai tahun 2013 terjadi konflik kekerasan sosisl khususnya di daerah Poso dan juga terjadi dibeberapa daerah lainnya di Sulteng, silih berganti banyak bentuk dan jenis kekerasan yang terjadi.

Ada beberapa kejadian dan dampak kerugian yang timbul dari kekerasan yang memilukan tersebut seperti:

Timbulnya korban jiwa dari orang-orang yang tidak berdosa.

Banyaknya korban jiwa dari berbagai kalangan sipil dan dari unsur pemerintahan (POLRI/TNI) pemuda dan masyarakat.

Banyaknya bangunan dibakar yang hanya menyisakan puing-puing reruntuhan bangunan seperti tempat-tempat ibadah, gedung pemerintahan, pasar umum toko-tok, kios, warung, serta rumah-rumah penduduk.

Perkebunan coklat yang subur dan sawah pertanian serta peternakan, terbengkalai pemiliknya karena pindah untuk menyelamatkan diri dan yang tertinggala dalah rasa ketakutan dan penderitaan yang mendalam di hati masyarakat.

Kejadian konflik tersebut terjadi berbulan-bulan bahkan berahun-tahun,  alhamdulillah masyarakat dan komponen lainnya secara bertahap dapat menyelesaikan konflik kekerasan, yang tentunya dapa membawa keprihatinan kepaa siapapun sebagai warga negara.

Pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2013 pak Dewa diberi tanggung jawab dan amanah sebagai Wakapolda dan Kapolda sulteng mendapat indikasi bahwa kasus kekerasan Poso belum sepenuhnya tuntas, dan sangat berpotensi akan bisa terulang kembali di daerah lain seperti Palu, Sigi dan daerah lainnya. Karena “Ketertiban Sosial” di masayarakat masih terganggu . Sebagai salah satu indikasinya adalah adanya “oknum-oknum dalam masayrakat yang membawa jargon agama, suku dan sentimen kebhinekaan untuk saling membenci orang yang berbeda paham dan perbedaan” sebagaimna awal terjadinya konflik kekerasan ynag terjadi di Poso.

Dalam kurun waktu menjabat Kapolda Sulteng ada 3 jenis kekeraasan yang mewarnai sering terjadi kekerasan yang sangat meresahkan masyarakat dengan berbagai macam yang melatarbelakanginya anatara lain sebagai berikut:

Kekerasan berbentuk teror kekerasan dan kelompok sipil bersenjata yang mengatasnamakan agama keyakinan yang menimbulkan korban jiwa 

Kekerasan berbentuk perang antar desa kampung menimbulkan banyak kerugian maeril dan korban jiwa

Kekerasan dampak dari kesenjangan sosial (kemiskinan)

Kekerasan dampak dari penyalahgunaan miras dan narkoba

Kekerasan dampak dari sisa-sisa konflik pasca kegiatan pilkada

Akibat budaya “sumbu pendek” sehingga dari hal-hal yang sangat sepele memunculkan kekerasan dalam masyarakat, karena sangat terbatasnya tempat-tempat hiburan / wisata untuk masyarakat yang dapat menurunkan ketegangan emsional “sumbu pendek” dalam masayarakat.

Dengan latar belakangan permasalahan ynag multi kompleks di Sulawesi Tengah sebagaimna di jabarkan di atas tentunya kepolisian pasti tidak bisa menghapinya hanya dengan pendekatan hukum dan atau kekuatan senjata sekalipun sehingga program pendekatan Polda yang diarahkan kepada kegiatan “membangun keamanan dengan pendekatan pembangan perdamaian dan kesejahteraan” ditingkat pedesaan dengan kearifan lokal setempat bersama komponen terkait.

Tujuan dibuatnya taman wisata budaya dan edukasi gong perdamaian nusantara “Nosarara Nosabatutu” antara lain:

Dapat memberikan edukasi kepada masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tenang KEBHINEKAAN, PANCASILA dan UUD 1945 dalam bingkai NKRI yang kita cintai dan kita banggakan

Upaya mencegah terulangkembali konflik kekerasan sosial seperti kejadian yang pernah terjadi di Poso 

Nama “Nosarara Nosabatutu” adalah bahasa daerah Kaili (bahasa Lokal) yang artinya “Bersaudara dan Bersatu” sebagai upaya penguaan kearifan lokal “walaupun buka saudara dalam satu iman tetapi saudara dalam kemanusian sebagai suatu anugrah” sehingga siapapun dan apapun agamanya, sukunya, etnisnya yang tinggi di tanah Kaili atau di Sulawesi Tengah wajib bersama menjaga kerukuan dan perdamian sebagai “satu saudara warga Indonesia”  yang menjunjung tinggi kebhinekaan, pancasila, UUD 1945 dalam bingkai NKRI 

Dibangunnya Graha “Pogombo Natesa Belo”yang artinya balai peremuan untuk musyawarah dengan berbicara yang santun, baik dan damai. Sebagai upaya mencari solusi dalam menjaga kerukunan dan perdamaian yang universal.

Menambah tempat hiburan / wisata di wilayah Sulawesi Tengah dan khususnya di kota Palu yang jumlahnya sangat terbatas sebagai upaya menurunkan tingkat emosiaonal ketegangan sosial “sumbu pendek” dalam masyarakat.

Harapan kedepan

Di samping lokasi ini menjadi tempat edukasi perdamaian diharapan juga menjadi  lokasi antara lain:

Menjadi pionir edukasi penggerak ekonomi kreatif denagan mengubah lahan yang kering tandus dan terlantar menjadi kawasan wiasata terpadu yang dipadukan dengan membangun kebun raya buah naga bersama kelompok-kelompok tani disekitar desa tersebut. Guna mendorong kesejahteraan warga di sekitarnya.

Menjadi kawasan konservasi. Dari lahan yang krisis, gundul dan gersang melalui kegiatan penghijauan sebagai cadangan sumber air kota Palu.

Menjadi tempat penelitian, bidang pertanian, perkebunan, peternakan bagi kampus-kampus perguruan tinggi yang ada di Palu khususnya dan Sulawesi Tengah pada umumnya

Menjadi lokasi perlindungan dan penangkaran satwa langka, satwa endemik, Sulawesi Tengah seperti burung Maleo dan lainnya 

Ikut membantu menggerakkan sektor pariwisata daerah (pariwisata yang berwawasan budaya, aman hijau, dan bersih)

Dibangunnya jalan membelah perbukitan dapat menghubungkan (kota Palu) kelurahan Tondo menuju kelurahan Paboya dan sekaligus berfungsi sebagai jalan “evaluasi” jika warga Palu terdampak bencana Tsunami












LAMPIRAN-LAMPIRAN:



Plang Petunjuk Arah yang Ada Ditepi Jalan Raya


Foto Penulis Saat Berada Di Gong Perdamaian Nusantara Palu


Gong Perdamaian Tampak Dari Depan



Pemandangan Bawah Lokasi Wisata Monumen Nosarara Nosabatutu Dari Atas



Saat Berada Di Lantai 3 Monumen



Dokumentasi Sambutan Kapolda Sulteng Periode 2011-2013


Lokasi Kebun Binatang


Pola Parenting di Desa Pangkalan Buton dan Desa Sutera Kecamatan Sukadana

Pola Parenting di Desa Pangkalan Buton dan Desa Sutera Kecamatan Sukadan Kabupaten Kayong Utara, Provinsi Kalimantan Barat Indonesia

Oleh: Balqis Muliya Isnani 

isnanibalqismuliya@gmail.com


Desa Pangkalan Buton dan Desa Sutera termasuk salah satu desa yang berada di kecamatan Sukadana,  kabupaten Kayong Utara, provinsi Kalimanatan Barat, Indonesia. Di Desa Pangkalan Buton ini memiliki empat dusun yaitu: Dusun Tanjung Belimbing, Dusun Simpang Empat, Dusun Sungai Galik dan Dusun Air Pauh. Sedangkan desa Sutera ada 5 dusun, yaitu Dusun Tanah Merah, Dusun Sukadana, Dusun Sekip, Dusun Selimau dan Dusun Payak Itam. Penduduk di desa Pangkalan Buton dan Desa Sutera pada umumnya menerapkan pola Parenting yang tidak jauh berbeda dengan pola parenting yang ada di pedesaan di wilayah Indonesia ini khususnya di desa yang ada di Provinsi Kalimantan Barat ini.

Pola pendidikan anak merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh orangtua dalam mendidik, memperlakukan dan membimbing anak sejak dalam kandungan hingga dewasa yang bertujuan untuk membentuk suatu karakter dan perilaku anak yang nantinya akan menjadi karakter khusus dari anak tersebut. Salah satu pola asuh orangtua di pedesaan ialah pola asuh kemandirian, memelihara dan membesarkan anak dengan pengorbanan yang tidak ada hentinya. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Fuad Ihsan (2012), tanggung jawab orangtua dalam mendidik anak ada empat yaitu sebagai berikut: pertama, memelihara dan membesarkannya. Tanggung jawab semacam ini berupa dorongan alami yang dilakukan orangtua terhadap anak, tanggung jawab seperti ini merupak sifat almamiah yang muncul dalam diri orangtua, seperti memberikan makan, minum dan perawatan agar anak tersebut tumbuh berkembang dengan baik dan anak dapat hidup secara berkelanjutan; kedua melindungi dan menjami kesehatannya, baik secara jasmani maupun rohani dari berbagai gangguan penyakit atau bahaya lingkungan yang dapat membahayakan dirinya; mendidiknya dengan berbagai ilmupengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi hidupnya, sehingga apabila ia dewasa mampu berdiri sendiri dan membantu orang lain serta melaksanakan fungsi kekhalifahannya; membahagiakan anak untuk dunia dan akhirat dengan memberinyapendidikan agama sesuai dengan tuntutan Allah sebagai tujuan akhir hidup muslim. Tanggung jawab ini dikategorikan juga sebagai tanggung jawab kepada Allah.

Hal tersebut sesuai dengan apa yang peneliti temukan saat penelitian berlangsung, yaitu sebagai berikut:

MEMELIHARA DAN MEMBESARKAN ANAK


Kearifan lokal pada masing-masing etnis di desa ini menjadi sumber nilai dan inspirasi mereka, terutama dalam menjalani keseharian mereka dalam memelihara dan membesarkan anak-anak mereka.  Seperti yang telah disinggung di atas, di Desa Pangkalan Buton  dan Sutera umumnya para orang tua menggunakan cara-cara lokal untuk memelihara dan membesarkan anak-anak mereka, seperti misalnya menggunakan pantang larang, permainan-permainan tradisional, cerita-cerita rakyat, dan termasuk melibatkan mereka dalam tradisi dan/atau adat-istiadat serta prosesi yang menyertainya (Syamsul Kurniawan, 2022).

Setiap orangtua pasti memiliki karakteristik dalam memelihara dan membesarkan anak-anaknya, antara orangtua yang satu dan yang lainnya pasti memiliki perbedaan dalam hal memelihara anak. Pemeliharaan anak dalam bahasa Arab disebut dengan istilah “hadhanah” maksudnya adalah merawat dan mendidik atau mengasuh bayi / anak kecil yang belum mampu menjaga dan mengatur diri sendiri (Abdul Rahman Ghazaly, 2013). 

Dalam ensklopedia Hukum islam dijelaskan, hadanah yaitu mengasuh anak kecil atau anak normal yang belum atau tidak dapat hidup mandiri, yakni dengan memenuhi kebutuhan hidupnya, menjaga dari hal-hal yang membahayakan, memberinya pendidikan fisik maupun psikis, mengembangkan kemampuan intelektual agar sanggup memikul tanggungjawab hidup (Abdul Rahman Ghazaly, 2013)

Wawancara bersama Bu Jutinah (Usia 57 tahun), penduduk desa Sutera

Beliau mengatakan bahwa semenjak tahun 2008, tepatnya setelah 3 tahun suaminya meninggal dunia, Usaha bu Jutinah seorang Single Parent untuk memelihara dan membesarkan anak-anaknya, beliau bekerja sebagai penjual ikan, dan sayuran keliling dengan menggunakan sepeda. Untuk mendapatkan ikan dengan harga yang murah Bu Jutinah membeli ikan langsung ke nelayan di tepi pantai dan untuk mendapatakan sayuran terkadang orang-orang mengantar sayur-sayuran yang akan dijual tersebut kerumah ibu Jutinah.

Wawancara bersama Bu Jumiati (Usia 45 tahun), penduduk desa Pangkalan Buton

Bu Jumiati merupakan seorang ibu rumahtangga sekaligus pedagang ia mempunyai suami yang berprofesi sebagai kontraktor, sebelum menikah suami bu Jumiati sudah berprofesi sebagai kontraktor sehingga alhamdulillah kehidupan keluarga bu Jumiati ini sangat berkecukupan dari hal tersebut sangat menunjang keberlangsungan dalam membesarkan anak mereka.

Wawancara bersama Bu Syarifah Suharti (Usia 56 tahun), penduduk desa Pangkalan Buton 

Bu Suharti ini ialah seorang ibu rumah tangga sekaligus pedagang, suaminya bekerja sebagai seorang Guru yang berstatus sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil),  di usia pernikahan 1-5 tahun pernikahan bu Suharti ini pernah berladang dan karena sering mengalami gagal panen sehingga beliau memutuskan untuk tidak lagi berladang, saat itu bu Suharti beralih pekerjaan menjadi pembuat dan penjual kue, pekerjaan tersebut beliau tekuni selama puluhan tahun sejak beliau masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) hanya saja beliau sempat berhenti membuat kue karena merasa kecapean dan akhirnya sekarang beliau sudah mendirikan warung agar tetap ada pendapatan yang diterima agar dapat membantu perekonomian keluarga.


MELINDUNGI DAN MENJAMIN KESEHATAN ANAK

Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh bekembangan, dan berpartisipasi secara optimalsesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, sertamendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Perlindungan anak terkait erat dengan lima pilaryakni, orang tua, keluarga, masyarakatpemerintah,  pemerintah daerah dan negara. Kelimanya memiliki keterkaitansatu dengan yang lainsebagai penyelenggara perlindungan anak. Dalam bentuknya yang paling sederhana, perlindungan anak mengupayakan agar setiap hak anak tidak dirugikan. Perlindunga anak bersifat melengkapi hak-hak lainnya menjamin bahwa anak-anak akan menerima apa yang mereka butuhkan agar mereka dapat bertahan hidup, berkembang dan tumbuh (Rini Fitriani, 2016).

Semenjak anak dalam kandungan, lalu lahir hingga dewasa,  naluri orangtua terhadap anaknya pasti selalu berusaha untuk melindungi bahkan merancang strategi khusus untuk keterjaminan kesehatan anak, seperti ikut keanggotaan BPJS kesehatan maupun asuransi kesehatan yang lainnya. Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan narasumber.

Wawancara bersama Bu Jutinah (usia 57 tahun), penduduk Desa Sutera

  Berdasarkan hasil wawancara yang sudah dilakukan bersama dengan bu Jutinah mengatakan bahwa untuk melindungi dan menjamin kesehatan anak, beliau menggunakan BPJS yang tidak berbayar, tetapi BPJS ini tidak pernah digunakan, karena di ibu Jutinah dan keluarga sering berobat di Klinik dan kebetulan di klinik desa Sutra ini tidak melayani BPJS, jadi untuk membayar pengobatan tersebut dengan sistem bibitan, yang dimaksud sistem bibitan yaitu seorang pasien yang berobat di klinik melakukan kesepakatan atau perjanjian dengan perawat atau tim medis, kesepakatan tersebut berupa pihak klinik memberikan polibag ke pasien yang sudah melakukan pengobatan, lalu pasien yang bersangkutan mengisi polibag tersebut dengan tanah bakar, lalu ditanami dengan bibit pepohonan yang bernilai tinggi, setelah sekitar 2 bulan masa tanam dan benihnya tumbuh dengan baik, maka bibit tersebut barulah diberikan ke pihak klinik untuk membayar biaya pengobatan.

Wawancara bersama Bu Jumiati (Usia 45 tahun), penduduk desa Pangkalan Buton

Berdasarkan wawancara yang sudah dilakukan bersama bu Jumiati, beliau mengungkapkan bahwa beliau dan keluarga ikut serta keanggotaan di BPJS kesehatan, tetapi tidak pernah digunakan sebagaimana mestinya, karena bu Jumiati menyadari bahwa saat menggunakan BPJS Kesehatan untuk berobat di rumah sakit atau klinik, pelayanannya sangat lama, dan kadang obat yang harganya lumayan mahal pasien itu sendiri yang harus membayar dari hal tersebut sangat membebani pasien padahal sudah membayar setiap bulannya walupun tidak digunakan.

Wawancara bersama Bu Syarifah Suharti (Usia 56 tahun), penduduk desa Pangkalan Buton 

Berdasarkan hasil wawancara bersama narasumber, beliau mengatakan bahwa keluarga bu Jumiati ikut serta dalam keanggotaan BPJS Kesehatan, menurut beliau BPJS kesehatan ini sangat membantu dalam proses pengobatan di keluarganya,walupun terkadang BPJS tersebut tidak bisa digunakan untuk pengobatan dengan jenis penyakit yang lumayan besar biaya pengobatannya.


MENDIDIK DENGAN KETERAMPILAN HIDUP 

  Menurut Trisnawati (dalam Ghatarina Umi, M.  dan Mila Karmila, 2020) Faktor utama yang mendukung dalam keberhasilan anak dalam keterampilan hidup (life skil) adalahkeluarga, karena panutan anakdalam berkepribadian adalah orangtua bagaimana cara anakuntuk melihat karakter yang diajarkan orangtua pada setiapharinya oleh karena itu orangtua penentu dalam keberhasilan anak untuk mempunyai kepribadian, karakter, kedisilinan, dan tanggung jawab yang positif.

Wawancara bersama Bu Jutinah (Usia 57 tahun), Alamat di Jalan Tanah Merah RT/RW 1 / 1 Desa Sutra

Berdasarkan hasil wawancara bersama dengan bu Jutinah, pola pendidikan yang ia tanamkan ke anak-anaknya ialah kemandirian, seperti beliau mempunyai 4 orang anak laki-laki dan 2 orang anak perempuan, untuk anak laki-lakinya ini bu Jutinah dan suaminya membiasakan untuk membantu berladang seperti menebas rumput, dan untuk anak perempuan terkadang juga diikut-sertakan pergi ke sawah untuk membantu mencabut rumput, keterampilan yang lainnya yang di terapkan oleh bu Jutinah ialah melatih anak perempuannya yang sudah berusia 7 tahun untuk bisa mengasuh adik-adiknya dan juga berberes rumah.

Wawancara bersama Bu Jumiati (Usia 45 tahun), penduduk desa Pangkalan Buton

Berdasarkan wawancara bersama dengan bu Jumiati, keterampilan hidup yang ditanamkan untuk anak-anaknya saat masih kecil berupa anak yang perempuan dibiaskan untuk membantu pekerjaan rumah tetapi usaha tersebut tidak berjalan efektif karena anak melihat kondisi orang tua yang serba berkecukupan dari hal tersebut anak merasa tidak perlu bersusah payah untuk membantu orangtuanya.

Wawancara bersama Bu Syarifah Suharti (Usia 56 tahun), penduduk desa Pangkalaan Buton

Berdasarkan wawancara bersama bu Suharti keterampilan hidup dalam mendidik anak yang ia dan suaminya terapkan ialah pola kemandirian seperti tidak terlalu memanjakan anak-anak mereka walaupun statusnya sebagai seorang anak pegawai negeri, di usia Sekolah Dasar anaknya yang perempuan punya kemauan sendiri untuk berjualan disekolah, untuk anak laki-lakinya sering kali bekerja membantu orang-orang untuk mengangkat pasir yang nantinya akan dikasih upah dari pekerjaan yang ia kerjakan.  

MEMBERIKAN PENDIDIKAN AGAMA

Pendidikan agama Islam yakni suatu usaha  untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senatiasa dapat memahami ajaran Islam, secara menyeluruh, lalu menghayati tujuan yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup (Abdul Majid dan Dian Andayani, 2006)


Wawancara bersama Bu Jutinah (Usia 57 tahun), Alamat di Jalan Tanah Merah RT/RW 1 / 1 Desa Sutra

Berdasarkan penuturan dari bu Jutinah pendidikan yang pertama yang diajarkan untuk anak-anaknya ialah belajar mengaji, yang diajarkan langsung oleh suami bu Jutinah, hanya saja setalah suami bu Satinah meninggal, lalu anak-anaknya mengaji dengan seorang guru ngaji, selain belajar ngaji anak-anak bu Jutinah belajar kitab berzanji dan belajar qasiqah.

Wawancara bersama Bu Jumiati (Usia 45 tahun), penduduk desa Pangkalan Buton

Berdasarkan hasil wawancara yang di laksanakan, bu Jumiati mengatakan bahwa sejak anak-anaknya masuk Sekolah Dasar(SD) sudah mulai diajarkan mengaji yang diajarkan langsung oleh bu Jumiati dan suamainya secara bergantian.

Wawancara bersama Bu Syarifah Suharti (Usia 56 tahun), penduduk desa Pangkalaan Buton

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan bu Suharti berkaitan dengan memberikan pendidikan Agama kepada anak, beliau mengatakan bahwa semua anaknya alhamdulillah sejak kecil sudah di biasakan atau diajarkan mengaji yang diajari oleh guru ngaji yang tidak jauh dari kediaman beliau.


DAFTAR PUSTAKA


Andayani, A. M. (2006). Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Konsep dan Impplementasi Kurikulum 2004. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Fitriani, R. (2016). Peranan Penyelenggara Perlindungan Anak dalam Melindungi dan Memenuhi Hak-Hak Anak. Jurnal Hukum Samudera Keadilan, 253.

Ghatarina Umi, M. &. (2020). Pendidikan Keterampilan Hidup (Life Skill) Anak Usia Dini Selama Masa Pandemi Covid-19 di LIngkungan Keluarga. Jurnal Pemikiran dan Penelitian Pendidikan Anak Usia Dini, 57.

Ghazaly, A. R. (2013). Fiqih Munakahat. Jakarta: Prenada Media.

Wahy, H. (2012). Keluarga Sebagai Basis Pendidikan Pertama dan Utama. Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA, 247.


Senin, 21 Januari 2019

Persebaran Kebudayaan Penduduk Perbatasan Indonesia-Malaysia

PERSEBARAN KEBUDAYAAN PENDUDUK PERBATASAN
INDONESIA-MALAYSIA

Oleh: Balqis Muliya Isnani
isnanibalqismuliya@gmail.com

ABSTRAK
 Budaya telah memberikan kontribusi besar dalam membentuk tradisi masyarakat. Termasuk juga dengan tradisi yang ada pada penduduk Desa Temajuk yang berada di ekor Borneo tepatnya di kecamatan paloh, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat  dan penduduk Desa Kampung Teluk Malano, Sarawak, Malaysia Timur dimana dua Desa ini saling berdekatan yang berada di perbatasan Indonesia dan Malaysia. Warga di Desa Temajuk  dengan warga di Teluk Malano Malaysia menjalin hubungan yang sangat akrab, karena dua daerah ini sangat berdekatan dan diantara keduanya memiliki persamaan dalam budaya yaitu adat budaya Pernikahan dan budaya 1 Muharram. Dimana persamaan tersebut muncul dari berbagai faktor yaitu yang pertama : Orang melayu asli dari Kabupaten Sambas tidak sedikit  yang menikah dengan warga Teluk Malano lalu tinggal di Teluk Malano kedua, dua daerah yang bertetanggaan tersebut memiliki keakraban sejak dari dahulu yang ketiga, faktor kesamaan. Budaya tersebut merupakan bukti nyata bahwa diantara dua negara memiliki kedekatan yang sangat kuat yang bertahan sejak dari dahulu hingga pada zaman sekarang ini .
Kata Kunci: Budaya, Persebaran, pernikahan dan 1 Muharram.


PENDAHULUAN
                 Budaya atau kebudayaan secara etimologi berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah,  yang  merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal kemudian diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi atau akal manusia. Sedangkan budaya atau kebudayaan yang dalam bahasa latin di nisbatkan dari kata cultura berarti mengandung, memelihara, mengerjakan atau mengolah. Kemudian dalam bahasa Arab digunakan kata al-saqafah untuk menyebutkan istilah kebudayaan .
           Kebudayaan terbentuk dari beberapa unsur yang menurut Koentjaraningrat(1974,1993,2009), beliau mengemukankan bahwa setiap kebudayaan mempunyai unsur-unsur universal sebagai berikut: 1).Sistem religi 2) Sistem kemasyarakatan atau organisasi sosial 3) Sistem pengetahuan 4) Bahasa 5) Kesenian 6) Sistem mata pencaharian hidup atau sistem ekonomi 7) Sistem peralatan hidup. Dalam kehidupan bermasyarakat tentunya tidak lepas dari suatu kebudayaan, dimana kebudayaan tersebut di hasilkan oleh masyarakat sendiri. Kebudayaan muncul merupakan hasil perilaku masyarakat yang sering kali di lakukan. Dari sebuah kebudayaan memberikan cerminan sendiri tentang identitas suatu bangsa. Budaya dapat dianggap sebagai identitas suatu bangsa itu sendiri. Tradisi yang telah ada banyak mengandung nilai-nilai luhur yang wajib dipertahankan, dikembangkan dilestarikan dengan cara memperkenalkannya kepada generasi muda dan masyarakaat umumnya.
               Kebudayaan dalam masyarakat melayu Sambas khususnya di Temajuk merupakan wujud dari sekelompok masyarakat Melayu yang menyuguhkan nilai-nilai filosofi Melayu dan Islam. Identitas melayu tercipta dan terbentuk melalui keberagamaan suku bangsa, bahasa, dan budaya yang disatukan oleh islam dalam satu komunitas besar yang menghiasi nusantara Begitu juga kebudayaan yang ada di Teluk Malano merupakan wujud dari cipta dan karsa manusia yang terbentuk dari keberagamaan suku bangsa, bahasa, budaya yang ada. Di Desa Temajuk dan Kampung Teluk Malano terdapat tradisi yang sama yaitu adat budaya Pernikahan dan 1 Muharram. Dimana tradisi tersebut sudah lama di jalankan oleh masyarakat Temajuk dan Malano, budaya tersebut memang ada perbedaan sedikit misal saja dari budaya 1 Muharram di Temajuk masih dijalankan budaya 1 Muharram dengan kegiatan tepung tawar dari satu rumah kerumah yang lainnya dan di Teluk Malano budaya 1 Muharram masih dijalankan tetapi di Malano tidak dijalankan lagi tepung tawar.
Menurut Machasin memberikan penjelasan bahwa Islam memilik pandangan terhadap budaya  lokal , yaitu:
1. Menerima dan mengembangkan budaya yang sesuai dengan prinsip- prinsip islam dan berguna bagi pemulia kehidupan masyarakat.
2. Menolak tradisi dan unsur- unsur budaya yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.
3. Membiarkan saja, seperti pada cara berpakaian
Berangkat dari latar belakang diatas, maka peneliti berusaha mengangkat budaya masyarakat perbatasan Indonesia-Malaysia (Temajuk- Teluk Malano) yaitu tentang 1 Muharram dan Tradisi pernikahan.
Penelitian ini berusaha menjawab persoalan bagaimana bentuk tradisi tersebut, unsur- unsur apa saja yang ada dan nilai- nilai apa saja yang terkandung dalam kebudayaan tersebut.


METODE PENELITIAN
               Penelitian ini bersifat deskriptif dengan analisis kualitatif. Setelah data diperoleh oleh  peneliti lalu dianalisis menurut teknik yang sesuai dengan sifat dari mana data yang diperoleh. Data yang didapatkan ialah  melalui observasi dan wawancara (data primer) tentang makan besaprah, pada pesta pernikahan di Desa Temajuk dan Teluk Malano. Data yang diperoleh melalui literatur yang erat kaitannya dengan Tradisi pelaksanaan adat istiadat Melayu dalam pernikahan di Kabupaten Sambas (data sekunder). Data tersebut dianalisis menggunakan pedekatan deskriptif kualitatif. Adapun tehnik Pengambilan sampel lokasi penelitian dipilih secara ”purposif sampling” (Ida Bagoes Mantra, 1991), yakni pemilihan dengan sengaja lokasi penelitian oleh peneliti dengan maksud menemukan tempat / daerah yang sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin di teliti.
Penelitian Kualitatif (Qualitative research)
                  Peneitian kualitatif adalah penelitian yang dapat menjelaskan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap kepercayaan, persepsi seseorang atau kelompok terhadap sesuatu
Metode kualitatif
1. Hipotesis dikembangkan sejalan dengan penelitian / saat penelitian
2. Definisi sesusi konteks atau saat penelitian berlangsung
3. Deskripsi naratif / Kata- kata ungkapan atau pernyataan
4. Lebih suka menganggap cukup dengan reliabilitas penyimpulan
5. Penilaian validitas  melalui pengecekan silang atas sumber informasi
6. Menggunakan deskripsi prosedur secara naratif
7. Sampling purposive
8. Menggunakan analisis logis dalam mengontrol variabel ekstern
9. Mengandalkan peneliti dalam mengontrol bias
10. Menyimpulkan hasi secara naratif / kata- kata
11. Gejala-gejala ang terjadi dilihat dlam perspektif keseluruhan
12.Tidak merusak gejala-gejala yang terjadi secara alamiah / membiarkan keadaan aslinya
DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
Letak geografis
              Sebelum membahas eksistensi adat budaya pernikahan dan 1 muharram, terlebih dahulu diuraikan mengenai kondisi daerah yang menjadi tempat pelaksanaan tradisi tersebut. Hal itu penting karena dapat memberikan gambaran tentang daerah maupun masyarakat dimana tempat kebudayaan tersebut hidup. Sambas merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Kalimantan Barat. Di kabupaten sambas terdapat 19 kecamatan  salah satunya ialah Kecamatan Paloh dan kecamatan Paloh terbagi menjadi 8 Desa, salah satunya adalah Desa Temajuk.
Dengan batas wilayah sebagai berikut:
a.Sebelah Utara dengan Desa Sebubus
b.Sebelah Selatan dengan Laut Natuna Selatan
c.Sebelah barat dengan laut Natuna Selatan
d.Sebelah Timur dengan Malaysia
Secara geografi Desa Temajuk merupakan daerah yang memiliki topografi tanahnya relatif datar meskipun ada sedikit yang berbukit kira-kira 40%. Desa temajuk merupakan sebuah desa dengan luas wilayah kurang lebih 1.078 ha (tanah sawah, tanah kering dan tanah basah) dan dengan jumlah 2262 jiwa pada tahun 2018.
Kondisi sosial ekonomi
                Kondisi ekonomi merupakan salah satu unsur kebudayaan yang universal. Untuk mengetahui tingkat ekonomi atau kemajuan atau kemakmuran suatu daerah dapat dilihat dari keadaan ekonomi masyarakat atau penduduknya. Pada umumnya masyarakat di pedesaan sekaligus pesisir bekerja sebagai Nelayan, Petani, Pedagang, Pegawai Negeri Sipil, POLRI dan pekerjaan yang lain.
Kondisi ekonomi yang dimaksud adalah keadaan yang menggambarkan kondisi perekonomian masyarakat suatu daerah. Seperti hanya masyarakat Desa Temajuk dan memenuhi kebutuhan sehari- hari keluarga mereka, masing-masing mempunyai cara berbeda- beda, baik itu dari menjadi nelayan, petani,  pedagang, polri dan lainnya.
Kondisi sosial budaya
                   Kebudayaan tidak bisa lepas dari kehidupan manusia dimana kebudayaan tersebut sebagai wujud dan juga pola- pola dari kebiasaan masyarakat. Wujud dari sosial budaya tersebut dapat berupa cara dan gaya hidup sehari-hari, cara melaksanakan suatu kepercayaan atau agama yang dianut, tradisi atau adat istiadatnya. Setiap masyarakat juga memiliki kehidupan sosial yang berbeda dengan masyarakat lainnya. Dimasyarakat melayu Sambas memiliki kehidupan sosial yang khas yaitu banyak meggunakan berbagai lambang atau simbol sebagai media atau sarana untuk menyampaikan dakwah dalam menyebarkan agama Islam dan di samping itu masyarakat di Kabupaten Sambas khususnya di Desa Temajuk merupakan masyarakat yang hidupnya penuh dengan rasa kekeluargaan, rukun serta saling tolong-menolong antar sesama.
Kondisi sosial agama
                  Agama merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan kebudayaan. Agama juga merupakan seperangkat aturan peraturan yang mengatur hubungan dengan dunia gaib, khususnya Tuhan, mengatur manusia dengan manusia lainnya, dan mengatur manusia dengan lingkungannya. Kehidupan keagamaan penduduk Desa Temajuk relatif sangat baik, hal ini dapat dilihat dari kerukunan penduduk antar pemeluk agama, yang tampak saling menghormati. Hal ini juga dididukung oleh kesadaran mengenai makna hidup beragama juga akhirat dan peranan warga masyarakat serta pemuka agama sangat berpengaruh untuk menciptakan kerukunan hidup beragama.

TEORI DIFUSI KEBUDAYAAN
             Teori difusi pada awalnya ditunjukkan untuk memahami difusi dari teknik-teknik pertanian, tetapi pada perkembangannya difusi digunakan pada bidang- bidang lainnya secara lebih universal. Teori difusi inovasi dari Everret M Rogers kemudian diformulasikan dalam sebuah buku pada tahun 1962 berjudul “Diffusion of Inovations”, dimana dalam perkembangannya selanjunya menjadi landasan pemahaman tentang inovasi, faktor- faktor sosial apa yang mendukung adopsi inovasi  dan bagaimana inovasi tersebut berproses diantara masyarakat.  Difusi menekankan pada adanya persebaran (material dan non material)dari satu kebudayaan ke kebudayaan yang lain, dari satu orang ke orang yang lain. Serta dari satu tempat ketempat yang lain, sehingga kebudayaan itu sumbernya dari satu tempat yang kemudian berkembang dan menyebar ketempat yang lain.
           Teori difusi kebudayaan dimaknai sebagai persebaran kebudayaa yang disebabkan adannya migrasi manusia. Perpindahan dari satu tempat ketempat lain, akan menularkan budaya tertetu. Hal ini akan semakin nampak jelas jika perpindahan manusia itu secara kelompok atau besar-besaran, dikemudian hari akan menimbulkan difusi kebudayaaan yang luar biasa. Setiap ada persebaran kebudayaaan, disitulah terjadi penggabungan dua kebudayaan atau lebih. Akibat pengaruh kemajuan teknolgi- komunikasi, juga akan mempengaruhi terjadinya difusi, maka akan terungkap segala bentuk kontak dan persebaran budaya sampai kewilayah yang kecil. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kontribusi pengkajian difusi terhadap kebudayaan manusia bukan pada aspek historis budaya tersebut, melainkan pada letak geografi budaya dalam wilayah dunia.
            Menurut Fathoni (2005) penyebaran unsur kebudayaan dapat terjadi tanpa ada perpindahan kelompok manusia atau bangsa, tetapi adanya individu- individu yang membawa unsur kebudayaan nya ketempat lain, mereka adalah apara pedagang dan penyebar agama. Faktor yang paling penting dari difusi kebudayaan adalah karena adanya suatu pengakuan bahwa unsur yang dibawa atau unsur baru itu mempunyai kegunaan dalam masyarakat .

PERSEBARAN KEBUDAYAAN
Budaya di Desa Temajuk:
             Didesa Temajuk banyak tradisi-tradisi yang dapat di temukan disana seperti umumnya tradisi yang ada di Daerah Kabupaten Sambas, dan peneliti hanya mengambil dua adat budaya yang ada yaitu Adat Budaya Pernikahan dan budaya 1 Muharram, berikut ini akan dipaparkan mengenai tradisi tersebut:
Adat Budaya Pernikahan
Prosesi Betangas
             Satu atau dua hari sebelum hari memotong/ hari pertama pesta, diadakan acara “betangas” atau “ditangas” dan acara “bekasai”. Betangas adalah cara mandi uap bagi pengantin pria dan wanita dirumah masing- masing, yakni dimasukkan dalam satu tempat tertutup hanya sedikit saja yang dibuatkan lubang supaya tidak lemas. Didalamnya ditempatkan wadah berisi rebusan serai dan rempah-rempah. Calon pengatin duduk berjongkok didekat tungku, lalu diselubungi dengan tikar pandan dalam bentuk tabung besar yang diatasnya ditutup rapat- rapat dengan kain. Kemudian si calon pengantin mengaduk- aduk air dalam ceret tadi (berisi daun- daun atau rempah- rempah yang mempunyai wangi yang khas seperti daun serai wangi yang telah direbus) secara berulang-ulang sehingga berkeluaran lah uapnya dan membasahi seluruh tubuhnya. Hal itu dilakukan secara berulang- ulang sampai satu atau dua jam dan dapat juga sampai air rebussan di dalam ceret tadi habis. Tujuan utama betangas antara lain untuk membuang bau badan dan membersihkan pori-pori, sehingga pada waktu bersanding “tidur bersama” bau badannya harum dan terasa segar.
             Bekasai adalah menggosok / melulur seluruh tubuh dengan campuran tepung beras dan rempah wangian, biasanya hanya dilakukan oleh calon pengantin perempuan. Bekasai berasal dari kata kasai yaitu sejenis param yang terbuat dari tepung beras dicampuri rempah seperti cekur / kencur dan rempah lainnya. Tujuan dari bekasai adalah supaya kulit menjadi halus dan mulus sehingga nantinya akan lebih memperindah dalam berhubungan suami isteri. Setelah bekasai dan belanggir kemudian mandi badan dan rambut dikeramas dengan kulit langir yang berfungsi sebagai shampo.
              Tradisi betangas dan bekasai sampai pada saat ini masih di jalankan oleh masyarakat Desa Temajuk dan umumnya masyarakat asal Kabupaten Sambas dan hal ini dianggap sangat wajib untuk di jalankan kerena melihat manfaat dari tradisi tersebut yang sungguh banyak manfaat yang diperoleh.
Tradisi Antar pakatan
           Antar pakatan berasal dari kata “Antar” yang artinya “membawa atau menghantarkan” sementara “pakatan” itu artinya “sepakat, setuju atau mufakat”. Antar pakatan adalah suatu adat istiadat dimana seseorang atau satu keluarga yang di undang kesuatu acara besar membawa beras, uang dan seekor ayam. Tamu yang diundang itu membawa uang, beras sekitar 1 KG yang dimasukkan kedalam baskom atau ember kecil yang ada penutupnya untuk diserahkan kepada mempelai atau orang yang mengadakan acara. Barang- barang tersebut diberikan pada saat akan bersalaman dengan pihak mempelai atau keluarga dari yang mengadakan pekerjaan, dan memberikan uang pada saat bersalaman nominalnya biasa dua ribu rupiah atau lebih.
Tradisi saprahan
           Di Desa Temajuk memang masih melestarikan tradisi saprahan atau makan besaprah. Dimana saprahan merupakan adat tradisi kebiasaan turun- temurun dalam menghidangkan makanan yang dilakukan sehari-hari dirumah tangga terutama didesa- desa dari Kabupaten Sambas. Saprahan merupakan acara makan bersama dengan duduk bersila berkelompok, setiap kelompok terdiri dari 6(enam) orang. Dalam kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga, acara saprahan menjadi keharusan bagi masyarakat Kabupaten Sambas khususnya di Desa Temajuk.
           Makna dan pengertian dari saprahan dalam masyarakat melayu Sambas yang identik dengan Islam sejak zaman dahulu hingga sekarang tetap dilestarikn dan terpelihara, berpedoman pada enam rukun iman dan lima rukun Islam. Makan besaprah disantap oleh 6(enam) orang setiap saprahannya dengan pengertian rukun iman, dan untuk lauk- pauknya yang dihidangkan biasanya ada 5(lima) piring atau lima jenis yang mengandung makna rukun Islam. Makan besaprah harus bersama- sama serempak mulai menyusun dari atas hingga ke bawah atau dari yang tertua hingga yang muda. Tidak ada perbedaan menu masakan untuk sajian saprahan antara rakyat biasa, pimpinan, dan pemuka pemuka masyarakat duduk menghadap sajian saprahan, makan dengan teratur, sopan, dan beradat.
Bentuk-bentuk saprahan ada 2 macam yaitu:
Saprahan memanjang
        Saprahan memanjang adalah sajian makanan disusun disajikan diatas kain yang memanjang (kain putih yang memanjang) sepanjang ruang yang disiapkan ditempat acara jamuan. Tamu duduk berhadap- hadapan diruang yang telah disiapkan.Saprahan memanjang ini tidak ada lagi ditemukan dan tidak ditemukan lagi di daerah kabupaten Sambas, hanya ada di luar kabupaten Sambas.
Saprahan Pendek
         Saprahan pendek adalah bentangan mengamparkan kain saprahan (alas) ukuran pendek 1 X 1 Meter saja dan diatasnya hamparan tersebut diletakkan sajian makanan yang akan disantap oleh para tamu undangan. Tiap saprahan pendek ini dihadapi oleh 6 (enam) orang dengan cara duduk melingkari saprahan. Saprahan bentuk  pendek inilah yang masih dilaksanakan di Kabupaten Sambas khususnya di Desa Temajuk sampai saat sekarang ini.
Budaya 1 Muharram
Tradisi Bepapas
            Bepapas adalah salah satu tradisi khususnya pada muslim melayu Sambas ,yang biasa dilaksanakan pada acara tertentu misal: acara 1 Muharram, tepung tawar (syukuran bayi baru lahir), pindah rumah, mendirikan rumah baru, tolak bala dll. Alat-alat bepapas: 1. Daun enjuang, daun imbali daun mentibar. 2. Kasai langgir, yang dicairkan dengan air lalu dibacaan doa selamat dan doa tolak bala’.
          Di Temajuk masih ada sebagian masyarakat yang menjalankan tradisi bebapas ini dan ada juga dari sebagian orang yang sudah paham agama yang tidak lagi menjalankan tradisi bepapas tersebut karena memandang tepung tawar atau bepapas adalah tradisi orang agama Hindu-Budha.

Tradisi Makan-makan
           Menu makanan pada saat 1 Muharram adalah seperti ketupat ,kue lapis , bubur padas, nasi lengkap dan ada menu yang lain juga,dan untuk minumnya: air putih, air susu, kopi susu dan air manis (menu tersebut tergantung pada pribadi masing-masing) Dimasyarakat Kabupaten Sambas khususnya di Desa Temajuk dalam 1 Muharram dijadikan hari raya ke tiga setelah hari raya Idul fitri dan Idul Adha,di momen-momen seperti ini dijadikan ajang untuk bersilaturahmi sambil mengadakan acara-makan-makan dengan para tetangga atau keluarga.
Tradisi di Kampung Teluk Malano, Malaysia
           Di Teluk Malano, Malaysia terdapat beberapa tradisi yang ada dan penulis hanya mencantumkan 2 tradisi  yang ada disana seperti Tradisi pernikahan dan tradisi 1 Muharram , dimana tradisi tersebut mempunyai persamaan sepeerti tradisi yang ada di Desa Temajuk,  berikut akan di paparkan:
Budaya  Pernikahan
Tradisi Betangas
           Di Teluk Malano sama hal nya juga dengan tradisi di Desa Temajuk ada juga prosesi betangas, dan waktu pelaksanaannya juga sama, bahan-bahan yang digunakan juga sama.
Tradisi Antar pakatan
         Di Teluk Malano juga ada antar pakatan, antar pakatan di Teluk Malano juga membawa beras, uang dan ayam sama seperti di Temajuk..
Tradisi Besaprah
          Tradisi besaprah diteluk melano berbeda dengan tradisi di Temajuk dimana di Teluk Malano saprahannya berbentuk memanjang dimana sajian makanannya disusun disepanjang ruang yang telah ditentukan.
Budaya 1 muharram
         Budaya 1 muharam di Teluk Melano masih dijalankan oleh para penduduk disana tetapi sedikit berbeda dengan tradisi yang ada didesa Temajuk pada saat 1 Muharram. Di Teluk Melano tradisi 1 muharam tidak lagi menggunakan tradisi bepapas hanya ada acara silaturrahmi dengan tetangga dan acara makan- makan saja, menu- menu makanan dan minumannya ada yang sama dengan makanan di Temajuk seperti : ketupat, kue lapis, bolu dan makanan yang lainnya.
Hasil wawancara:
Bapak Rusdi (berumur kurang lebih 63 tahun)
        Menurut pemaparan beliau bahwa tradisi pernikahan di Temajuk masih sama seperti tradisi pernikahan zaman dahulu, hanya saja jumlah dalam satu saprahan ada yang berjumlah lima orang dan ada juga yang enam orang, untuk tempat acara pernikahan tetap menggunakan Tarup .
Aki / Bapak Zulkarnain (berumur kurang lebih 70 tahun, pak Lebai (pemuka agama pertama di Temajuk)
          Menurut pemaparaan beliau sama seperti perkataan ki Rusdi, dan beliau juga memaparkan tradisi betangas(prosesi sebelum pernikahan dilaksanakan) di sana masih tetap dilaksanakan dari turun temurun.
Aki / Bapak Adni (berumur kurang lebih 62 tahun, pak Lebai/ pemuka agama Desa Temajuk yang sekarang)
          Menurut beliau tradisi pernikahan di sana tetap di jalankan tradisi besaprah, tetap menggunakan tarup dan juga masih ada prosesi betangas
Nekmah(berumur sekitar 60 Tahun) Penduduk asli Teluk Malano
        Berdasarkan pemaparan beliau bahwa di Teluk Malano memang sejak dari dahulu sudah di jalankan tradisi 1 Muharram dan Tradisi pernikahan dimana asal muasal tradisi tersebut memang berasal dari Kabupaten Sambas tepatnya di Desa Temajuk Kecamatan Paloh, di 2 budaya tersebut memang ada sedikit perbedaan diantara Tradisi di Desa Temajuk dengan Teluk Malano. Salah satu perbedaannya ialah di Teluk Malano dalam budaya 1 Muharram tidak ada tradisi bepapas didalamnya, hanya saja disana menjalankan/ memperingati 1 Muharram itu untuk silaturahmi dengan tetangga dan terdapat pula acara makan- makan sama halnya dengan Desa Temajuk.

PENUTUP
            Pembahasan mengenai kebudayaan ataupun tradisi Melayu tentu saja merupakan kajian yang menarik bagi para peneliti, karena tentu saja akan dikaji dari berbagai aspek. Kebudayaan tersebut merupakan suatu simbol dari suatu daerah tertentu misalkan saja seperti tradisi yang telah dipaparkan di atas. Kebudayaan di setiap daerah atau negara memang berbeda- beda tetapi ada persamaan dari kebudayaan tersebut. Itulah sebagai identitas suatu bangsa atau daerah.





LAMPIRAN
Antar pakatan.

Contoh Tarub

Makan Besaprah bentuk pendek

Saprahan bentuk memanjang

Acara 1 muharam ,di Teluk Malano

Suasana 1 Muharram saat membacakan doa, Di Temajuk



Suasana makan-makan saat 1 Muharram di Desa Temajuk

Tempat untuk betangas

Suasana saat betangas


DAFTAR PUSTAKA
Fathoni, Abdurahmat. 2006.  Antropologi Sosial Budaya. Jakarta: Rineka Cipta
Gunarto, Alang dkk. 2017. Bunga Rampai Seni, Budaya & Sejarah Pejuang Sambas . Pontianak: TOP Indonesia.
Kaplan, David dan Robert A Manner. 1999. Teori Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Monografi Desa Temajuk Tahun 2018.
Liliweri,Alo.2014. Pengantar Studi kebudayaan,  Bandung: Nusa Media
S.Arpan. 2009. Saprahan Adat Budaya Melayu Sambas. Sambas: Majelis Adat Budaya Melayu Kabupaten Sambas
Saepul Hamdi,Asep dan E.Bahruddin. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif Aplikasi dalam Pendidikan. Yogyakarta: Deepublish.
Tim Penyusun Kurikulum Muatan Lokal: 1994 Provinsi Kalimantan Barat. Upacaya Adat Suku Dayak dan Melayu di Kalimantan Barat.








Kecintaan Padamu Negeriku Tercinta

KECINTAAN PADAMU NEGERIKU TERCINTA

Oleh: Balqis Muliya Isnani
  isnanibalqismuliya@gmail.com

Melihat kondisi yang terjadi pada zaman sekarang ini, adanya kesenjangan yang terjadi dalam bidang pembangunan di daerah-daerah terpencil khusus nya di daerah perbatasan Indonesia, hal ini salah satu penyebab turunnya rasa Nasionalisme seseorang. Untuk mengetahui nasionalisme disuatu negara atau daerah tentunya kita harus mengetahui definisi dari nasionalisme tersebut. Menurut Ernest Renan Nasionalisme adalah kemauan untuk bersatu tanpa paksaan dalam semangat persamaan dan kewarganegaraan. Setiap warga negara dituntut untuk memiliki rasa nasionalisme pada negara-bangsanya, karena dengan nasionalisme warga negara telah menjunjung tinggi kedaulatan bangsanya.
Di Desa Temajuk yang berada di Provinsi Kalimantan Barat Kabupaten Sambas, Kecamatan Paloh. Temajuk ini batas wilayahnya sebagai berikut: Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Sebubus, Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Natuna Selatan, Sebelah Barat  berbatasan dengan laut Natuna Selatan, dan Sebelah Timur berbatasan dengan Malano, Malaysia. Dari situ kita bisa melihat bahwa di Desa Temajuk ini suatu Daerah perbatasan yang berbatasan langsung dengan Negara Malaysia.Walaupun Desa ini merupakan Daerah perbatasan tetapi tidak menghilangkan jiwa Nasionalisme para penduduk yang tinggal disana. Di Desa Temajuk yang berbatasan langsung dengan Malano, Malaysia terdapat banyak hubungan yang terjalin diantara kedua Daerah ini diantaranya hubungan sosial dan budaya contohnya saja saat seseorang yang berasal dari Desa Temajuk mengadakan suatu acara misalnya acara pernikahan tidak jarang mereka mengundang warga yang tinggal di Malano untuk menghadiri acara tersebut dan hubungan lain yang terjalin ialah hubungan jual-beli baik itu dilakukan oleh penduduk desa Temajuk yang berbelanja di Malano maupun penduduk Malano yang berbelanja di Desa Temajuk tetapi yang lebih dominan berbelanja di luar ialah warga Desa temajuk ke Malaysia. Walaupun dalam hal ekonomi penduduk Desa Temajuk  itu sedikit tergantung pada produk-produk yang berasal dari Malaysia seperti gulu dari Malaysia yang harganya lebih murah dari produk dalam negeri dan harga bahan pokok yang lain nya juga, karena perbandingan harganya yang lebih murah dari produk yang berasal dari Indonesia, hal itu mereka lakukan disebabkan karena kurangnya perhatian dari pemerintah terhadap penduduk perbatasan,  walaupun demikian yang terjadi hal itu tidak menyebabkan mereka menghilangkan rasa kecintaan terhadap tanah air Indonesia, dan dalam bidang sosial budaya mereka tetap terjaga dengan baik. Di Desa Temajuk ini  telah tampak jelas kecintaan terhadap Tanah air, saat kami mewawancarai beberapa penduduk desa Temajuk, mengenai apakah mereka mau pindah kewarganegaraan menjadi Warga Negara Malaysia mereka ada yang menjawab: “saya tetap memilih menjadi warga negara Indonesia, walaupun Negara Malaysia jauh lebih baik dari negara Indonesia, jauh lebih maju dari Indonesia”, penduduk Temajuk juga banyak yang bekerja di Malano yang sudah lama menggeluti pekerjaan disana gaji yang didapat juga lumayan lebih besar dibanding bekerja di Indonesia, dari segi pembangunan di Malano juga lebih maju dari Temajuk, dan dari segi harga barang juga lebih murah di Malaysia, walaupun ada sebagian orang yang memilih untuk berkewarganegaraan menjadi warga negara Malaysia karena dengan alasan menikah dengan penduduk sana. Meskipun mereka ada yang bekerja di negara Malaysia tetapi mereka tetap bisa menjaga budaya mereka dan tidak menghilangkan persatuan antara satu sama lain.
Bukti lain bahwa Penduduk Desa Temajuk mempunyai jiwa Nasionalisme yang Tinggi ialah Budaya dan Tradisi di Desa Temajuk tetap dijaga dan perkenalkan ke Negara Malaysia bukti nyatanya ialah sebagian Budaya asli dari Kabupaten Sambas misalnya saja budaya Pernikahan, di Malano tradisi pernikahan nya tidak jauh berbeda dengan tradisi yang ada di desa Temajuk contohnya saja tradisi dalam makan “besaprah” dan tradisi tersebut masih dijalankan oleh penduduk desa Temajuk dan warga Malano sampai saat ini dan saat mengadakan acara pernikahan atau acara lain antara penduduk Temajuk dan warga Teluk Malano tidak jarang mereka saling membantu antara satu  sama lain. Walaupun terlihat hampir memiliki kebudayaan yang hampir sama misalnya saja dalam acara perkawinan dan acara peringatan 1 Muharram, tetapi diantara dua negara ini tetap ada ciri khas tersendiri dari masing-masing kebudayaan tersebut hal ini lah yang menunjukkan identitas suatu bangsa.
Dan ada beberapa Nasionlisme ada di masyarakat desa Temajuk, yaitu:
Nasionalisme dalam mempertahankan kewarganegaraan di tengah pola pikir warga perbatasan yang ingin mencari kesejahteraan dengan pindah ke Malaysia.
Seperti yang telah penulis paparkan sedikit di atas tadi penduduk Desa Temajuk masih terlihat dalam mempertahankan jiwanya untuk tetap menjadi warga negara Indonesia, walaupun kesejahteraan belum di dapatkan oleh sebagian besar penduduk desa Temajuk tetapi mereka tetap bertahan dalam kondisi yang bisa dikatakan jauh dari kesejahteraan. Nasionalisme dalam kemiskinan, meski hidup dalam kemiskinan dan keterbatasan di perbatasan tetapi mereka tetap setia pada bangsa Indonesia. Nasionalisme kemiskinan yang terjadi pada warga perbatasan Kalimantan Barat terutama di desa Temajuk, tetapi dengan kemiskinan tersebut bisa membuat mereka bisa berkembang dengan adanya Sumber Daya Pariwisata yang ada di sana seperti tempat wisata Pantai, yang mereka manfaatkan sebagai tempat wisata dengan usaha tersebut dapat membuat kemiskinan dapat di atasi.
Nasionalisme dalam mempertahankan wilayah
Pada tahun 2011 yang lalu di desa Temajuk mengalami konflik perbatasan yaitu dengan adanya kejadian “Patok batas”  yang berada di desa Camar Bulan yang hilang, yang menyebabkan sebagian wilayah Temajuk kurang lebih sebanyak 1.449 Ha masuk ke wilayah malaysia, dengan kejadian tersebut warga desa Temajuk dengan berbagai cara untuk mempertahankan wilayah tersebut dengan adanya keamanan dan penjagaan yang dilakukan oleh tentara  baik itu tentara Indonesia maupun tentara Malaysia semakin di perketat dan akhirnya sekarang ini tidak ada lagi konflik diantara kedua warga tersebut dan mereka hidup kembali damai.
Dari pemaparan sedikit dari penulis tadi walaupun tidak secara mendalam penulis paparkan bahwa dapat di ketahui bahwa rasa nasionalisme di Desa Temajuk itu ada dan masih tertanam pada jiwa para penduduknya walaupun tidak semua orang yang bisa mempertahankan nasionalisme itu.

Jumat, 18 Januari 2019

Temajuk Surganya Kalimantan

Temajuk Surganya Kalimantan 

Oleh: Balqis Muliya Isnani 
isnanibalqismuliya@gmail.com 

Desa Temajuk merupakan suatu desa yang berada di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat yang berbatasan langsung dengan Malaysia.
Di desa Temajuk terdapat banyak pemandangan yang sangat indah yang bisa dijadikan sebagai tempat wisata, di sana terdapat pantai-pantai yang indah dan sudah banyak orang yang berkunjung disana.
Temajuk sering di sebut orang-orang dengan Bali nya Kalimantan.
Tempat  yang sangat terkenal adalah pantai Batu Nenek, Dermaga Camar Bulan, Rumah Terbalik, Pantai Telok Atong, Pantai Surya, Pantai Maludin, Tanjung Datoe, Pantai Pasir Plaik, Hutan Bakau, Batu Bejulang.

Perdamaian Nusantara Di Palu Sulawesi Tengah

  “PERDAMAIAN NUSANTARA DI PALU SULAWESI TENGAH” OLEH: Balqis Muliya Isnani isnanibalqismuliya@gmail.com Di Palu Sulawesi tengah terdapat ...