Selasa, 19 Agustus 2025

Perdamaian Nusantara Di Palu Sulawesi Tengah

 “PERDAMAIAN NUSANTARA DI PALU SULAWESI TENGAH”

OLEH: Balqis Muliya Isnani isnanibalqismuliya@gmail.com

Di Palu Sulawesi tengah terdapat Gong Perdamaian Nusantara gong tersebut berada di atas Bukit berjarak sekitar 2 Kilo Meter di belakang Mako Polda Sulawesi Tengah berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta, Desa Plajan, Kelurahan Tondo, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. Jarak tempuh untuk menuju tempat ini jika melalui Jalan Soekarno-Hatta mencapai sekitar 10 menit dengan menggunakan kendaraan (mobil atau sepeda motor).

Perjalanan menuju gong dan monumen perdamaian para wisatawan akan melihat-lihat keindahan perbukitan, dapat melihat burung-burung yang berterbangan di sekitaran bukit, dan melewati jalanan perbukitan dengan jalan yang sudah di aspal dan jalan tersebut memiliki luas cukup lebar dan bisa untuk muatan 1 mobil dan 1 sepeda motor jika berkendaran bersamaan, kondisi jalanan di sana berbelok-belok dan mendaki jadi jika kita menggunakan kendaraan harus berhati-hati apalagi saat berpapasan berlawanan arah dengan kendaraan yang lain. Untuk masuk ke tempat wisata ini kita hanya mengeluarkan uang sebesar 10 Ribu Rupiah untuk membeli tiketnya, setelah kita membeli tiket maka tidak terlalu jauh dari tempat pembelian tiket kita akan di sediakan tempat parkiran motor, dan tepat di depan parkiran motor ada jalur untuk menuju gong tersebut, jika kita melalui jalut tersebut kita harus melewati 3 lantai di lantai pertama kita harus menaiki 8  anak tangga, di lantai dua kita harus menaiki 15 anak tangga dan di lantai tiganya menaiki  20 anak tangga. Di tempat ini selain memiliki keindahan yang sangat luar bisa tetapi tempat ini memiliki nilai sejarah dan nasionalisme yang tinggi. 

Gong perdamaian Nusantara Gong perdamaian Nusantara ini sebelumnya berada di desa Plajan Kecamatan Pakis Aji Kabupaten Jepara Jawa Tengah, tetapi karena kota Palu sering di landa konflik dan kota Palu ini sering di kenal sebagai daerah rawan konflik, maka gong tersebut akhirnya di pindahkan ke Palu Sulawesi Tengah, di pindahkannya gong ini bertujuan sebagai sarana persaudaraan dan persatuan demi terwujudnya perdamaian di Nusantara Indonesia. Gong Perdamaian Nusantara yang berada di Palu ini merupakan gong yang ke-Empat setelah sebelumnya di bangun di daerah Yogyakarta, Kupang (Nusa Tenggara Timur) dan Singkawang (Kalimantan Barat). Gong ini resmikan  pada tanggal 11 Maret 2014. Gong ini memiliki 2 lantai dan gong ini berada di lantai dua, gong ini berwarna kuning keemasan berdiameter sebesar 2 meter dan berat 180 Kilogram, gong tersebut berbentuk bulat dan memiliki 4 lingkaran yaitu: lingkaran tengah atau lingkaran pertama : terdapat peta Indonesia, lingkaran kedua: terdapat simbol 5 agama yang ada d Indonesia yakni, Islam, Kristen, Hindu Budha dan Konghucu, pada lingkaran ketiga: ada 33 lambang beserta nama Provinsi yang ada di Indonesia yakni: Nenggroe Aceh Darussalam, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, Lampung, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Sulawesi barat, Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, dan lingkaran yang terakhir atau lingkaran paling luar mencantumkan 444 logo beserta nama Kabupaten/kota di Indonesia.

Tidak hanya Gong Perdamaian Nusantara Palu yang terkenal di kawasan ini tetapi di lokasi yang sama tidak jauh dari Gong Perdamaian ada juga sebuah Monumen yaitu “Monumen Nosarara Nosabatutu” penamaan Nosarara Nosabatutu ini berasal dari bahasa Kaili (Suku asli di Sulawesi Tengah) ini memiliki arti “Kita Bersaudara, Kita Bersatu”. Semboyan ini merupakan pemersatu bagi keberagaman masyarakat Sulawesi Tengah yang terdiri dari berbagai suku dan agama, tujuan di bangun sebuah monumen atau tugu ini ialah sebagai simbol persatuan dan perdamaian masyarakat Sulawesi Tengah pasca konflik komunal yang terjadi di Poso, Monumen ini dibangun sekitar rentang tahun 1998 sampai tahun 2000,  monumen ini memiliki luas 800 meter persegi  dan memiliki tiga lantai, lantai ini memiliki fungsinya masing-masing: Lantai dasar atau lantai Pertama: berfungsi sebagai pusat museum perdamaian yang mengandung nilai-nilai  luhur yang harus dijunjung tinggi, seperti ajaran perdamaian dari berbagai ajaran agama dan di lantai ini juga terdapat pesan-pesan  perdamaian  dari berbagai tokoh-tokoh  perdamaian, di lantai Kedua: dikhususkan untuk museum karya seni nusantara yang berisi beragam karya seni khas Indonesia yang wajib kita lestarikan, dan di lantai Tiga: merupakan museum khusus yaitu bahaya dari penyalahgunaan narkoba, karena pentingnya menghindari narkoba, maka dibuatkan museum khusus sebagai pencegah terhadap ancaman generasi bangsa Indonesia. Bangunan tiga lantai ini di dirikan bukan hanya sekedar didirikan tanpa memiliki makna, tetapi bangunan ini memiliki makna yang sangat luar biasa yaitu: ketika hidup manusia harus mampu menyeimbangkan hubungannya dengan sang pencipta atau Tuhan, dengan manusia dan lingkungannya. Tugu ini juga dibangun dengan bentuk segi lima di lengkapi  dengan lima buah tiang yang menggambarkan sila Pancasila, pada bagian pagar-pagarnya dibuat dengan berbagai macam bentuk menggunakan besi, seperti bentuk orang atau manusia dan bangunan tempat ibadah dari berbagai agama,  ini mencerminkan keberagaman Suku Budaya dan Agama yang bersatu dengan Bhineka Tunggal Ika 

Monumen atau tugu Nosarara Nosabatutu  ini di jadikan tempat wisata atau ramai di kunjungi sejak di resmikannya gong perdamaian yaitu pada tahun 2014, di atas monumen ini pada siang harinya para wisatawan akan di suguhkan dengan berbagai keindahan alam Palu, seperti dapat melihat teluk Palu, memandang perbukitan dan dapat melihat sunset dan pada malam harinya para wisatawan akan di manjakan dengan pemandangan rumah-rumah warga dengan pancaran lampu-lampunya.

Selain monumen dan Gong yang berada di lokasi ini, tetapi ada berbagai fasilitas yang di sedikan di sana seperti:

Kebun binatang

Kebun binatang yang ada disini merupakan kebun binatang mini  binatang yang ada disini merupakan kumpulan satwa yang sudah langka dan merupakan satwa yang berasal dari daerah setempat seperti burung maleo.

Dan pada saat saya mendatangi tempat ini terlihat kebun binatang tesebut tidak lagi terurus. 

Taman bunga

Taman bunga yang ada disini memiliki ukuran yang tidak terlalu besar, tanaman yang ada disini merupakan tanaman yang sudah langka dan merupakan tanaman asli dari Sulawesi Tengah seperti anggrek hitam, dan ada juga bunga yang aslinya berasal dari luar Sulawesi tengah seperti bunga Kamboja, bunga Kertas, bunga Jepun, bunga Tabebuai, bunga Terompet, bunga Bromelia, bunga Lidah Mertua. Dan di lokasi gong perdamaian ini di penuhi dengan tanaman berbagai jenis bunga-bunga, jadi tidak hanya di taman saja yang ada bunganya tetapi hampir di setiap sudut ada berbagai jenis pohon dan juga bunga dan dengan bunga yang berwarna warni.

Gedung serbaguna

Gedung serbaguna yang didirikan di kawasan ini cukup memadai. Biasanya gedung ini digunakan untuk di selenggarakannya pelatihan-pelatihan, pembinaan maupun pertemuan khusus untuk masyarakat.

Panggung

Di panggung ini dibuat dengan desain terbuka dan memiliki kolam renang, disini juga di sediakan tempat pameran karya seni serta sarana perkemahan.

Taman bersantai dan pondok wisata

Di kawasan wisata ini juga terdapat spot foto yang menarik berupa taman bersantai dan pondok, tempat ini sengaja di buat agar dapat memanjakan para pengunjung untuk menikmati suasana disana sambil melihat pemandangan yang asri di kota Palu dari ketinggian

Kafe

Di lokasi wisata ini juga terdapat sebuah kafe yang menyediakan berbagai jenis minuman dan makanan. Beberapa menu minuman yang tersedia disini diantaranya: cappucino, teh dingin/ panas, kopi susu dan jenis minuman yang lain. Sedangkan menu makanan yang di sediakan disini diantaranya yaitu stik pisang, mie kuah, mie goreng, binte pulut, mie stebas dan jenis makanan yang lainnya.

Mushola dan toilet

Nah belum lengkap suatu tempat wisata jika tidak ada musholanya, nah alhamdulillah di tempat ini menyediakan mushola untuk para wisatawan yang beragama Islam untuk melaksanakan sholat.


Pada bagian ini penulis akan memaparkan tulisan (yang dipajang di panggung) dari sambutan  KAPOLDA Sulawesi Tengah periode 2011-2013 yang bernama Drs.Dewa Parsana.M,Si, berikut isi sambutan beliau yang di sampaikan pada tanggal 11 Maret 2013, sebagai berikut:

Latar belakang di bangunnya taman wisata budaya dan edukasi gong perdamaian nusantara “Nosarara Nosabatutu” di palu Sulawesi Tengah, penulis akan menjelaskan secara singkat sebagai berikut:

Pada tahun 2000 sampai tahun 2013 terjadi konflik kekerasan sosisl khususnya di daerah Poso dan juga terjadi dibeberapa daerah lainnya di Sulteng, silih berganti banyak bentuk dan jenis kekerasan yang terjadi.

Ada beberapa kejadian dan dampak kerugian yang timbul dari kekerasan yang memilukan tersebut seperti:

Timbulnya korban jiwa dari orang-orang yang tidak berdosa.

Banyaknya korban jiwa dari berbagai kalangan sipil dan dari unsur pemerintahan (POLRI/TNI) pemuda dan masyarakat.

Banyaknya bangunan dibakar yang hanya menyisakan puing-puing reruntuhan bangunan seperti tempat-tempat ibadah, gedung pemerintahan, pasar umum toko-tok, kios, warung, serta rumah-rumah penduduk.

Perkebunan coklat yang subur dan sawah pertanian serta peternakan, terbengkalai pemiliknya karena pindah untuk menyelamatkan diri dan yang tertinggala dalah rasa ketakutan dan penderitaan yang mendalam di hati masyarakat.

Kejadian konflik tersebut terjadi berbulan-bulan bahkan berahun-tahun,  alhamdulillah masyarakat dan komponen lainnya secara bertahap dapat menyelesaikan konflik kekerasan, yang tentunya dapa membawa keprihatinan kepaa siapapun sebagai warga negara.

Pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2013 pak Dewa diberi tanggung jawab dan amanah sebagai Wakapolda dan Kapolda sulteng mendapat indikasi bahwa kasus kekerasan Poso belum sepenuhnya tuntas, dan sangat berpotensi akan bisa terulang kembali di daerah lain seperti Palu, Sigi dan daerah lainnya. Karena “Ketertiban Sosial” di masayarakat masih terganggu . Sebagai salah satu indikasinya adalah adanya “oknum-oknum dalam masayrakat yang membawa jargon agama, suku dan sentimen kebhinekaan untuk saling membenci orang yang berbeda paham dan perbedaan” sebagaimna awal terjadinya konflik kekerasan ynag terjadi di Poso.

Dalam kurun waktu menjabat Kapolda Sulteng ada 3 jenis kekeraasan yang mewarnai sering terjadi kekerasan yang sangat meresahkan masyarakat dengan berbagai macam yang melatarbelakanginya anatara lain sebagai berikut:

Kekerasan berbentuk teror kekerasan dan kelompok sipil bersenjata yang mengatasnamakan agama keyakinan yang menimbulkan korban jiwa 

Kekerasan berbentuk perang antar desa kampung menimbulkan banyak kerugian maeril dan korban jiwa

Kekerasan dampak dari kesenjangan sosial (kemiskinan)

Kekerasan dampak dari penyalahgunaan miras dan narkoba

Kekerasan dampak dari sisa-sisa konflik pasca kegiatan pilkada

Akibat budaya “sumbu pendek” sehingga dari hal-hal yang sangat sepele memunculkan kekerasan dalam masyarakat, karena sangat terbatasnya tempat-tempat hiburan / wisata untuk masyarakat yang dapat menurunkan ketegangan emsional “sumbu pendek” dalam masayarakat.

Dengan latar belakangan permasalahan ynag multi kompleks di Sulawesi Tengah sebagaimna di jabarkan di atas tentunya kepolisian pasti tidak bisa menghapinya hanya dengan pendekatan hukum dan atau kekuatan senjata sekalipun sehingga program pendekatan Polda yang diarahkan kepada kegiatan “membangun keamanan dengan pendekatan pembangan perdamaian dan kesejahteraan” ditingkat pedesaan dengan kearifan lokal setempat bersama komponen terkait.

Tujuan dibuatnya taman wisata budaya dan edukasi gong perdamaian nusantara “Nosarara Nosabatutu” antara lain:

Dapat memberikan edukasi kepada masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tenang KEBHINEKAAN, PANCASILA dan UUD 1945 dalam bingkai NKRI yang kita cintai dan kita banggakan

Upaya mencegah terulangkembali konflik kekerasan sosial seperti kejadian yang pernah terjadi di Poso 

Nama “Nosarara Nosabatutu” adalah bahasa daerah Kaili (bahasa Lokal) yang artinya “Bersaudara dan Bersatu” sebagai upaya penguaan kearifan lokal “walaupun buka saudara dalam satu iman tetapi saudara dalam kemanusian sebagai suatu anugrah” sehingga siapapun dan apapun agamanya, sukunya, etnisnya yang tinggi di tanah Kaili atau di Sulawesi Tengah wajib bersama menjaga kerukuan dan perdamian sebagai “satu saudara warga Indonesia”  yang menjunjung tinggi kebhinekaan, pancasila, UUD 1945 dalam bingkai NKRI 

Dibangunnya Graha “Pogombo Natesa Belo”yang artinya balai peremuan untuk musyawarah dengan berbicara yang santun, baik dan damai. Sebagai upaya mencari solusi dalam menjaga kerukunan dan perdamaian yang universal.

Menambah tempat hiburan / wisata di wilayah Sulawesi Tengah dan khususnya di kota Palu yang jumlahnya sangat terbatas sebagai upaya menurunkan tingkat emosiaonal ketegangan sosial “sumbu pendek” dalam masyarakat.

Harapan kedepan

Di samping lokasi ini menjadi tempat edukasi perdamaian diharapan juga menjadi  lokasi antara lain:

Menjadi pionir edukasi penggerak ekonomi kreatif denagan mengubah lahan yang kering tandus dan terlantar menjadi kawasan wiasata terpadu yang dipadukan dengan membangun kebun raya buah naga bersama kelompok-kelompok tani disekitar desa tersebut. Guna mendorong kesejahteraan warga di sekitarnya.

Menjadi kawasan konservasi. Dari lahan yang krisis, gundul dan gersang melalui kegiatan penghijauan sebagai cadangan sumber air kota Palu.

Menjadi tempat penelitian, bidang pertanian, perkebunan, peternakan bagi kampus-kampus perguruan tinggi yang ada di Palu khususnya dan Sulawesi Tengah pada umumnya

Menjadi lokasi perlindungan dan penangkaran satwa langka, satwa endemik, Sulawesi Tengah seperti burung Maleo dan lainnya 

Ikut membantu menggerakkan sektor pariwisata daerah (pariwisata yang berwawasan budaya, aman hijau, dan bersih)

Dibangunnya jalan membelah perbukitan dapat menghubungkan (kota Palu) kelurahan Tondo menuju kelurahan Paboya dan sekaligus berfungsi sebagai jalan “evaluasi” jika warga Palu terdampak bencana Tsunami












LAMPIRAN-LAMPIRAN:



Plang Petunjuk Arah yang Ada Ditepi Jalan Raya


Foto Penulis Saat Berada Di Gong Perdamaian Nusantara Palu


Gong Perdamaian Tampak Dari Depan



Pemandangan Bawah Lokasi Wisata Monumen Nosarara Nosabatutu Dari Atas



Saat Berada Di Lantai 3 Monumen



Dokumentasi Sambutan Kapolda Sulteng Periode 2011-2013


Lokasi Kebun Binatang


Pola Parenting di Desa Pangkalan Buton dan Desa Sutera Kecamatan Sukadana

Pola Parenting di Desa Pangkalan Buton dan Desa Sutera Kecamatan Sukadan Kabupaten Kayong Utara, Provinsi Kalimantan Barat Indonesia

Oleh: Balqis Muliya Isnani 

isnanibalqismuliya@gmail.com


Desa Pangkalan Buton dan Desa Sutera termasuk salah satu desa yang berada di kecamatan Sukadana,  kabupaten Kayong Utara, provinsi Kalimanatan Barat, Indonesia. Di Desa Pangkalan Buton ini memiliki empat dusun yaitu: Dusun Tanjung Belimbing, Dusun Simpang Empat, Dusun Sungai Galik dan Dusun Air Pauh. Sedangkan desa Sutera ada 5 dusun, yaitu Dusun Tanah Merah, Dusun Sukadana, Dusun Sekip, Dusun Selimau dan Dusun Payak Itam. Penduduk di desa Pangkalan Buton dan Desa Sutera pada umumnya menerapkan pola Parenting yang tidak jauh berbeda dengan pola parenting yang ada di pedesaan di wilayah Indonesia ini khususnya di desa yang ada di Provinsi Kalimantan Barat ini.

Pola pendidikan anak merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh orangtua dalam mendidik, memperlakukan dan membimbing anak sejak dalam kandungan hingga dewasa yang bertujuan untuk membentuk suatu karakter dan perilaku anak yang nantinya akan menjadi karakter khusus dari anak tersebut. Salah satu pola asuh orangtua di pedesaan ialah pola asuh kemandirian, memelihara dan membesarkan anak dengan pengorbanan yang tidak ada hentinya. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Fuad Ihsan (2012), tanggung jawab orangtua dalam mendidik anak ada empat yaitu sebagai berikut: pertama, memelihara dan membesarkannya. Tanggung jawab semacam ini berupa dorongan alami yang dilakukan orangtua terhadap anak, tanggung jawab seperti ini merupak sifat almamiah yang muncul dalam diri orangtua, seperti memberikan makan, minum dan perawatan agar anak tersebut tumbuh berkembang dengan baik dan anak dapat hidup secara berkelanjutan; kedua melindungi dan menjami kesehatannya, baik secara jasmani maupun rohani dari berbagai gangguan penyakit atau bahaya lingkungan yang dapat membahayakan dirinya; mendidiknya dengan berbagai ilmupengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi hidupnya, sehingga apabila ia dewasa mampu berdiri sendiri dan membantu orang lain serta melaksanakan fungsi kekhalifahannya; membahagiakan anak untuk dunia dan akhirat dengan memberinyapendidikan agama sesuai dengan tuntutan Allah sebagai tujuan akhir hidup muslim. Tanggung jawab ini dikategorikan juga sebagai tanggung jawab kepada Allah.

Hal tersebut sesuai dengan apa yang peneliti temukan saat penelitian berlangsung, yaitu sebagai berikut:

MEMELIHARA DAN MEMBESARKAN ANAK


Kearifan lokal pada masing-masing etnis di desa ini menjadi sumber nilai dan inspirasi mereka, terutama dalam menjalani keseharian mereka dalam memelihara dan membesarkan anak-anak mereka.  Seperti yang telah disinggung di atas, di Desa Pangkalan Buton  dan Sutera umumnya para orang tua menggunakan cara-cara lokal untuk memelihara dan membesarkan anak-anak mereka, seperti misalnya menggunakan pantang larang, permainan-permainan tradisional, cerita-cerita rakyat, dan termasuk melibatkan mereka dalam tradisi dan/atau adat-istiadat serta prosesi yang menyertainya (Syamsul Kurniawan, 2022).

Setiap orangtua pasti memiliki karakteristik dalam memelihara dan membesarkan anak-anaknya, antara orangtua yang satu dan yang lainnya pasti memiliki perbedaan dalam hal memelihara anak. Pemeliharaan anak dalam bahasa Arab disebut dengan istilah “hadhanah” maksudnya adalah merawat dan mendidik atau mengasuh bayi / anak kecil yang belum mampu menjaga dan mengatur diri sendiri (Abdul Rahman Ghazaly, 2013). 

Dalam ensklopedia Hukum islam dijelaskan, hadanah yaitu mengasuh anak kecil atau anak normal yang belum atau tidak dapat hidup mandiri, yakni dengan memenuhi kebutuhan hidupnya, menjaga dari hal-hal yang membahayakan, memberinya pendidikan fisik maupun psikis, mengembangkan kemampuan intelektual agar sanggup memikul tanggungjawab hidup (Abdul Rahman Ghazaly, 2013)

Wawancara bersama Bu Jutinah (Usia 57 tahun), penduduk desa Sutera

Beliau mengatakan bahwa semenjak tahun 2008, tepatnya setelah 3 tahun suaminya meninggal dunia, Usaha bu Jutinah seorang Single Parent untuk memelihara dan membesarkan anak-anaknya, beliau bekerja sebagai penjual ikan, dan sayuran keliling dengan menggunakan sepeda. Untuk mendapatkan ikan dengan harga yang murah Bu Jutinah membeli ikan langsung ke nelayan di tepi pantai dan untuk mendapatakan sayuran terkadang orang-orang mengantar sayur-sayuran yang akan dijual tersebut kerumah ibu Jutinah.

Wawancara bersama Bu Jumiati (Usia 45 tahun), penduduk desa Pangkalan Buton

Bu Jumiati merupakan seorang ibu rumahtangga sekaligus pedagang ia mempunyai suami yang berprofesi sebagai kontraktor, sebelum menikah suami bu Jumiati sudah berprofesi sebagai kontraktor sehingga alhamdulillah kehidupan keluarga bu Jumiati ini sangat berkecukupan dari hal tersebut sangat menunjang keberlangsungan dalam membesarkan anak mereka.

Wawancara bersama Bu Syarifah Suharti (Usia 56 tahun), penduduk desa Pangkalan Buton 

Bu Suharti ini ialah seorang ibu rumah tangga sekaligus pedagang, suaminya bekerja sebagai seorang Guru yang berstatus sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil),  di usia pernikahan 1-5 tahun pernikahan bu Suharti ini pernah berladang dan karena sering mengalami gagal panen sehingga beliau memutuskan untuk tidak lagi berladang, saat itu bu Suharti beralih pekerjaan menjadi pembuat dan penjual kue, pekerjaan tersebut beliau tekuni selama puluhan tahun sejak beliau masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) hanya saja beliau sempat berhenti membuat kue karena merasa kecapean dan akhirnya sekarang beliau sudah mendirikan warung agar tetap ada pendapatan yang diterima agar dapat membantu perekonomian keluarga.


MELINDUNGI DAN MENJAMIN KESEHATAN ANAK

Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh bekembangan, dan berpartisipasi secara optimalsesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, sertamendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Perlindungan anak terkait erat dengan lima pilaryakni, orang tua, keluarga, masyarakatpemerintah,  pemerintah daerah dan negara. Kelimanya memiliki keterkaitansatu dengan yang lainsebagai penyelenggara perlindungan anak. Dalam bentuknya yang paling sederhana, perlindungan anak mengupayakan agar setiap hak anak tidak dirugikan. Perlindunga anak bersifat melengkapi hak-hak lainnya menjamin bahwa anak-anak akan menerima apa yang mereka butuhkan agar mereka dapat bertahan hidup, berkembang dan tumbuh (Rini Fitriani, 2016).

Semenjak anak dalam kandungan, lalu lahir hingga dewasa,  naluri orangtua terhadap anaknya pasti selalu berusaha untuk melindungi bahkan merancang strategi khusus untuk keterjaminan kesehatan anak, seperti ikut keanggotaan BPJS kesehatan maupun asuransi kesehatan yang lainnya. Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan narasumber.

Wawancara bersama Bu Jutinah (usia 57 tahun), penduduk Desa Sutera

  Berdasarkan hasil wawancara yang sudah dilakukan bersama dengan bu Jutinah mengatakan bahwa untuk melindungi dan menjamin kesehatan anak, beliau menggunakan BPJS yang tidak berbayar, tetapi BPJS ini tidak pernah digunakan, karena di ibu Jutinah dan keluarga sering berobat di Klinik dan kebetulan di klinik desa Sutra ini tidak melayani BPJS, jadi untuk membayar pengobatan tersebut dengan sistem bibitan, yang dimaksud sistem bibitan yaitu seorang pasien yang berobat di klinik melakukan kesepakatan atau perjanjian dengan perawat atau tim medis, kesepakatan tersebut berupa pihak klinik memberikan polibag ke pasien yang sudah melakukan pengobatan, lalu pasien yang bersangkutan mengisi polibag tersebut dengan tanah bakar, lalu ditanami dengan bibit pepohonan yang bernilai tinggi, setelah sekitar 2 bulan masa tanam dan benihnya tumbuh dengan baik, maka bibit tersebut barulah diberikan ke pihak klinik untuk membayar biaya pengobatan.

Wawancara bersama Bu Jumiati (Usia 45 tahun), penduduk desa Pangkalan Buton

Berdasarkan wawancara yang sudah dilakukan bersama bu Jumiati, beliau mengungkapkan bahwa beliau dan keluarga ikut serta keanggotaan di BPJS kesehatan, tetapi tidak pernah digunakan sebagaimana mestinya, karena bu Jumiati menyadari bahwa saat menggunakan BPJS Kesehatan untuk berobat di rumah sakit atau klinik, pelayanannya sangat lama, dan kadang obat yang harganya lumayan mahal pasien itu sendiri yang harus membayar dari hal tersebut sangat membebani pasien padahal sudah membayar setiap bulannya walupun tidak digunakan.

Wawancara bersama Bu Syarifah Suharti (Usia 56 tahun), penduduk desa Pangkalan Buton 

Berdasarkan hasil wawancara bersama narasumber, beliau mengatakan bahwa keluarga bu Jumiati ikut serta dalam keanggotaan BPJS Kesehatan, menurut beliau BPJS kesehatan ini sangat membantu dalam proses pengobatan di keluarganya,walupun terkadang BPJS tersebut tidak bisa digunakan untuk pengobatan dengan jenis penyakit yang lumayan besar biaya pengobatannya.


MENDIDIK DENGAN KETERAMPILAN HIDUP 

  Menurut Trisnawati (dalam Ghatarina Umi, M.  dan Mila Karmila, 2020) Faktor utama yang mendukung dalam keberhasilan anak dalam keterampilan hidup (life skil) adalahkeluarga, karena panutan anakdalam berkepribadian adalah orangtua bagaimana cara anakuntuk melihat karakter yang diajarkan orangtua pada setiapharinya oleh karena itu orangtua penentu dalam keberhasilan anak untuk mempunyai kepribadian, karakter, kedisilinan, dan tanggung jawab yang positif.

Wawancara bersama Bu Jutinah (Usia 57 tahun), Alamat di Jalan Tanah Merah RT/RW 1 / 1 Desa Sutra

Berdasarkan hasil wawancara bersama dengan bu Jutinah, pola pendidikan yang ia tanamkan ke anak-anaknya ialah kemandirian, seperti beliau mempunyai 4 orang anak laki-laki dan 2 orang anak perempuan, untuk anak laki-lakinya ini bu Jutinah dan suaminya membiasakan untuk membantu berladang seperti menebas rumput, dan untuk anak perempuan terkadang juga diikut-sertakan pergi ke sawah untuk membantu mencabut rumput, keterampilan yang lainnya yang di terapkan oleh bu Jutinah ialah melatih anak perempuannya yang sudah berusia 7 tahun untuk bisa mengasuh adik-adiknya dan juga berberes rumah.

Wawancara bersama Bu Jumiati (Usia 45 tahun), penduduk desa Pangkalan Buton

Berdasarkan wawancara bersama dengan bu Jumiati, keterampilan hidup yang ditanamkan untuk anak-anaknya saat masih kecil berupa anak yang perempuan dibiaskan untuk membantu pekerjaan rumah tetapi usaha tersebut tidak berjalan efektif karena anak melihat kondisi orang tua yang serba berkecukupan dari hal tersebut anak merasa tidak perlu bersusah payah untuk membantu orangtuanya.

Wawancara bersama Bu Syarifah Suharti (Usia 56 tahun), penduduk desa Pangkalaan Buton

Berdasarkan wawancara bersama bu Suharti keterampilan hidup dalam mendidik anak yang ia dan suaminya terapkan ialah pola kemandirian seperti tidak terlalu memanjakan anak-anak mereka walaupun statusnya sebagai seorang anak pegawai negeri, di usia Sekolah Dasar anaknya yang perempuan punya kemauan sendiri untuk berjualan disekolah, untuk anak laki-lakinya sering kali bekerja membantu orang-orang untuk mengangkat pasir yang nantinya akan dikasih upah dari pekerjaan yang ia kerjakan.  

MEMBERIKAN PENDIDIKAN AGAMA

Pendidikan agama Islam yakni suatu usaha  untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senatiasa dapat memahami ajaran Islam, secara menyeluruh, lalu menghayati tujuan yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup (Abdul Majid dan Dian Andayani, 2006)


Wawancara bersama Bu Jutinah (Usia 57 tahun), Alamat di Jalan Tanah Merah RT/RW 1 / 1 Desa Sutra

Berdasarkan penuturan dari bu Jutinah pendidikan yang pertama yang diajarkan untuk anak-anaknya ialah belajar mengaji, yang diajarkan langsung oleh suami bu Jutinah, hanya saja setalah suami bu Satinah meninggal, lalu anak-anaknya mengaji dengan seorang guru ngaji, selain belajar ngaji anak-anak bu Jutinah belajar kitab berzanji dan belajar qasiqah.

Wawancara bersama Bu Jumiati (Usia 45 tahun), penduduk desa Pangkalan Buton

Berdasarkan hasil wawancara yang di laksanakan, bu Jumiati mengatakan bahwa sejak anak-anaknya masuk Sekolah Dasar(SD) sudah mulai diajarkan mengaji yang diajarkan langsung oleh bu Jumiati dan suamainya secara bergantian.

Wawancara bersama Bu Syarifah Suharti (Usia 56 tahun), penduduk desa Pangkalaan Buton

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan bu Suharti berkaitan dengan memberikan pendidikan Agama kepada anak, beliau mengatakan bahwa semua anaknya alhamdulillah sejak kecil sudah di biasakan atau diajarkan mengaji yang diajari oleh guru ngaji yang tidak jauh dari kediaman beliau.


DAFTAR PUSTAKA


Andayani, A. M. (2006). Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Konsep dan Impplementasi Kurikulum 2004. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Fitriani, R. (2016). Peranan Penyelenggara Perlindungan Anak dalam Melindungi dan Memenuhi Hak-Hak Anak. Jurnal Hukum Samudera Keadilan, 253.

Ghatarina Umi, M. &. (2020). Pendidikan Keterampilan Hidup (Life Skill) Anak Usia Dini Selama Masa Pandemi Covid-19 di LIngkungan Keluarga. Jurnal Pemikiran dan Penelitian Pendidikan Anak Usia Dini, 57.

Ghazaly, A. R. (2013). Fiqih Munakahat. Jakarta: Prenada Media.

Wahy, H. (2012). Keluarga Sebagai Basis Pendidikan Pertama dan Utama. Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA, 247.


Perdamaian Nusantara Di Palu Sulawesi Tengah

  “PERDAMAIAN NUSANTARA DI PALU SULAWESI TENGAH” OLEH: Balqis Muliya Isnani isnanibalqismuliya@gmail.com Di Palu Sulawesi tengah terdapat ...